Gerhana Supermoon, Awan Aneh dan Gempa Diduga Saling Terkait


SUKABUMIZONE.COM,SUKABUMI–Kejadian alam yang aneh dan jarang terjadi menyelimuti bumi awal tahun ini. Pasca supermoon, Senin (4/6) malam terjadi gerhana supermoon. Pada 6 Juni, Rabu besok juga akan ada keajaiban astronomi yang disebut transit venus. Tak hanya itu sejak kemarin, langit Indonesia dihiasi awan-awan ‘aneh’ dengan bentuk tegak lurus bak membelah langit yang dikabarkan menjadi penanda gempa.

Fenomena misterius di langit pagi ini, Selasa (5/6) menghebohkan warga Jogjakarta. “Sejak pagi tadi, ada kayak awan terbelah itu,” kata Sigit Wibowo, seorang warga Jogjakarta.Istri Sigit tak lupa kemudian mengabadikan gambar awan terbelah itu. Awan itu terbelah memanjang dari arah barat ke timur.
Jika dikaitkan dengan aktivitas pesawat terbang, Sigit menyatakan mengapa fenomena ini baru terlihat sekarang. “Tiap hari pesawat lewat, kok baru ada sekarang begini,” katanya.

Sigit menyatakan agak waswas fenomena awan ini terkait gempa bumi. Kemarin, dia membaca berita ada fenomena awan tegak lurus di Padang dan kemudian malam harinya ada gempa di selatan Jawa.”Kalau kepercayaan orang sini, ya akan ada gempa besar pula,” kata Sigit.

Sebelumnya, pukul 18.18 kemarin, gempa dengan kekuatan 6,1 skala Richter (SR) mengguncang Sukabumi, Jawa Barat. Tepat di malam terjadinya gerhana bulan ‘supermoon’ – saat satelit Bumi itu berada dalam jarak terdekatnya. Menurut catatan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sukabumi, hingga pukul 06.00, Selasa (5/6), terdata 40 rumah rusak dan 2 orang terluka.

Masyarakat lantas mengaitkan antara supermoon dan gempa. Bahwa peristiwa astronomi itu menyebabkan pergerakan lempeng Bumi yang memicu lindu. Yang lain bahkan mengaitkannya fenomena awan tegak lurus di Kota Padang, Sumatera Barat, Senin siang. Menganggapnya sebagai pertanda bencana, terutama gempa Bumi.

Ada lagi spekulasi yang menghubung-hubungkan lindu dahsyat 7,6 SR Padang pada Rabu sore 30 September 2009, yang sebelumnya didahului gempa Sukabumi 2 September 2009 dengan kekuatan 7,3 SR. Pertanyaan yang menyeruak, apakah berikutnya Padang yang akan digoyang lindu pasca kemarin?

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG)  meminta warga tidak panik setelah ada penampakan awan terbelah di langit, pagi ini. BMKG mengatakan awan itu adalah jejak pesawat.”Ini tidak ada kaitan dengan fenomena supermoon dan gempa seperti di Sukabumi,” kata Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Jogja Tony Agus Widayah, pagi tadi.

Dia kemudian menjelaskan pesawat tersebut terbang dari Bandara Adi Sucipto ke arah Barat. Dia sendiri mengaku tidak tahu, pesawat apa yang sempat membuat heboh warga Yogyakarta itu.Mengapa sampai ada awan terbelah? Menurut Tony, saat terbang pesawat membuang gas sangat panas ke udara. Sementara di ketinggian 3000 meter, suhu sangat dingin.

Terpisha, ahli Paleotsunami Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Eko Yulianto  mengatakan, hubungan antara supermoon dengan terjadinya gempa masih spekulatif.  “Belum ada pola yang bisa dijadikan patokan,” katanya Selasa (5/6).

Dia menceritakan, analisa pengaruh daya tarik bulan dan gempa bumi sudah lama diteliti para ahli. “Sejak tahun 1960-an, USGS sudah mengkajinya. Belum bisa ditemukan pola hubungan dengan hubungan pasti,” tambah dia.

Meski ada sejumlah ahli yang berusaha mengaitkannya, polanya tidak ketemu. Apalagi,” banyak peristiwa gempa tidak terjadi di bulan purnama,” tambah Eko.

Demikian pula dengan awan tegak lurus yang diduga pertanda gempa, sama spekulatifnya. “Bentuk tegak lurus tergantung posisi awan, dan posisi yang melihatnya,” kata dia.

Eko juga tak sepakat dengan anggapan bahwa gempa Sukabumi akan ‘menular’ ke Padang, seperti yang terjadi pada tahun 2009 lalu. “Letaknya jauh. Banyak juga gempa Sukabumi yang tak disusul gempa di Padang. Ini juga spekulatif,” kata dia.

Dugaan supermoon memicu gempa Bumi bukan hanya milik orang Indonesia, tapi pertanyan warga dunia.
Entah berkaitan atau tidak, sejumlah gempa besar terjadi berdekatan dengan fenomena supermoon. Salah satunya gempa dan tsunami dahsyat Jepang, 11 Maret 2011 — terjadi 8 hari sebelum supermoon 19 Maret 2011.

Tak hanya itu, tsunami Aceh 2004 yang merenggut lebih dari 200 ribu nyawa terjadi dua minggu sebelum supermoon 2005. Begitu juga dengan bencana angin siklon Tracy yang menyapu Darwin Australia di tahun 1974.

Pertanyaan sama dilayangkan berkali-kali ke Badan Survei Geologi Amerika Serikat (USGS). Peneliti geofisika USGS, Malcom Johnston mengatakan, menuding bulan sebagai penyebab gempa bukan ide baru.
“Gagasan mengaitkan bencana alam pada fase bulan sudah dilakukan sejak zaman Yunani. Sudah ditanyakan sejak ratusan tahun lalu,” kata dia seperti dimuat situs sains Discovery.

Sementara, ahli geologi USGS, Bill Burton mengatakan, ada banyak faktor yang mempengaruhi aktivitas seismik. Juga, “ada perbedaan aktivitas tektonik selama fase bulan yang berbeda.”

Meski mengakui, pasang surut laut bisa menimbulkan efek kecil pada aktivitas tektonik, namun apakah itu bisa menyebabkan gempa, apalagi dengan kekuatan dahsyat, masih jadi perdebatan. “Beberapa gempa kecil yang dangkal mungkin bisa terjadi saat purnama atau supermoon.” Peningkatan tekanan air yang disebabkan oleh fase lunar dapat menyebabkan tremor yang sangat kecil.”

“Mungkin ada sedikit dorongan yang mengakibatkan lempeng tektonik menyelinap,” timpal Johnston. “Namun, secara keseluruhan, efeknya bisa diabaikan. Kecuali jika mengambil kesimpulan berdasarkan sepuluh ribu data gempa bumi, Anda dapat menunjukkan ada hubungan yang signifikan antara gempa dan pergerakan bulan. Tapi kalau hanya berdasarkan satu gempa saja, jangan.”tuturnya

Sementara soal awan aneh yang diduga pertanda gempa, situs USGS menyebut, pada abad ke-4 Sebelum Masehi, Aristoteles mengajukan teori bahwa gempa disebabkan angin yang terperangkap di gua-gua di bawah tanah.

Pergerakan angin yang mendorong atap gua diyakini menyebabkan gempa kecil, sementara gempa besar diakibatkan udara pecah di permukaan tanah. Teori ini jadi dasar bagi teori cuaca gempa, di mana diyakini cuaca akan panas dan tenang sebelum gempa terjadi. Atau lindu dipercaya akan didahului angin kencang, bola api, dan meteor.

Teori yang lebih modern mengaitkan formasi awan tertentu sebagai pertanda gempa. Ide yang ditolak sebagian besar geolog.

sumber:Surabaya Pos

Lihat Juga...