Di Kab. Sukabumi, Kasus Malaria Tinggi

images(3)SUKABUMI — Kasus penyakit malaria di Kabupaten Sukabumi tertinggi di Jawa Barat (Jabar). Pasalnya, sampai saat ini masih terdapat kasus malaria indigenous atau lokal di wilayah tersebut.

Di Jabar, terdapat empat wilayah yang masih banyak kasus malaria terutama kasus lokal atau indigenous yakni Kabupaten Pangandaran, Garut, Tasikmalaya, dan Sukabumi. Misalnya saja, ada rentang Januari hingga Februari 2017 tercatat sebanyak sebelas warga Sukabumi yang terkena malaria. Rinciannya, sebanyak enam kasus pada Januari dan lima kasus pada Februari. ‘’Dari data kasus malaria, Sukabumi menempati peringkat pertama di Jawa Barat,’’ kata Kepala Seksi Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sukabumi Rika Mutiara kepada wartawan Selasa (25/4).

Sementara, kasus malaria pada Maret masih dalam proses pendataan dari Puskesmas dan rumah sakit. Sebenarnya, kasus malaria di Sukabumi mengalami penurunan setiap tahunnya. Pada 2015 lalu kasus malaria yang tercatat sebannyak 111 kasus. Jumlah tersebut menurun pada 2016 lalu yakni sebanyak 75 kasus malaria. “Kasus malaria tersebut sebagian besar impor dari daerah lain. Dalam artian warga Sukabumi terkena gigitan nyamuk malaria yakni Anopheles saat bekerja atau tinggal di luar daerah seperti Aceh atau Papua,” terangnya.

Semisal, pada 2016 lalu dari 75 kasus malaria sebanyak 27 kasus indigenous atau lokal dan sebanyak 39 impor serta 9 kasus penyakit kambuh. Sementara kasus malaria lokal ditemukan di daerah Kecamatan Cibitung, Ciracap, Lengkong, Taman Jaya Kecamatan Ciemas dan Kecamatan Tegalbuleud. “Fenomena kasus malaria lokal ini, menunjukkan wilayah Sukabumi belum terbebas dari vektor nyamuk malaria. Padahal Pemprov Jabar menargetkan pada 2020 mendatang tidak ada lagi kasus malaria lokal,” paparnya.

Target nasional yakni pada 2030 mendatang. Fakta ini, menyebabkan Sukabumi menjadi salah satu daerah di Jabar yang menjadi ganjalan dalam pencapaian bebas kasus malaria lokal. Sebab itu, pemkab kini tengah berupaya menggencarkan kegiatan penyuluhan dan penanganan penyakit malaria.‘’ Terutama dengan menggiatkan gerakan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) di tengah masyarakat,’’ jelasnya.

Kegiatan ini, diperlukan karena daerah penyebaran malaria biasanya kotor seperti di kawasan bekas tambak atau lagoon di pesisir pantai Sukabumi. Upaya lainnya tambah Rika dengan melakukan modifikasi lingkungan. “Contohnya kawasan bekas tambak ikan diubah menjadi taman atau lapangan sepak bola,” pungkasnya. Rol

Lihat Juga...