Musim Barat di Selatan Sukabumi Hambat Nelayan Melaut

SUKABUMI — Karena faktor musim barat yang ditandai kondisi cuaca yang kurang mendukung untuk melaut, sekitar 80 persen nelayan di selatan Kabupaten Sukabumi Jawa Barat, memilih tidak melaut.

“Di awal tahun ini sebagian besar nelayan memang tidak melaut,” kata Kepala Bidang Perikanan Tangkap, Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Sukabumi Ayom Budi Prabowo kepada wartawan Selasa, (30/1).

Menurutnya, para nelayan memilih menyandarkan perahunya di dermaga. Mereka, akan kembali melaut ketika musim angin barat telah berlalu.

Lanjut Ayom, bila ada nelayan yang tetap melaut maka DPK mengimbau untuk tetap waspada. Hal itu sesuai dengan imbauan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofikasi (BKMG). “Di mana misalnya ketika terjadi gerhana bulan total diperkirakan terjadi gelombang pasang maksimal pada Rabu malam.” ujarnya.

Terlebih sebelumnya terjadi peristiwa gelombang pasang air laut menerjang Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi pada Senin (29/1) lalu. “Dampaknya, sejumlah warung atau rumah warga yang ada di pinggiran pantai mengalami kerusakan,” tegasnya.

Banyaknya nelayan yang tidak melaut, berdampak pada turunnya hasil tangkapan ikan di selatan Sukabumi. Hal ini didasarkan pantauan di sejumlah tempat pelelangan ikan (TPI) di enam titik berbeda. “Ke enamnya yakni Cisolok, Cibangban, Ujunggenteng, Palabuhanratu, Ciwaru, dan Minajaya,” imbuhnya.

Sebenarnya, hasil tangkapan ikan sempat meningkat pada saat musim kemarau lalu. Tapi ketika memasuki musim penghujan yang disertai cuaca buruk maka hasil tangkapan berkurang kembali. “Kami harap satu bulan lagi musim paceklik segera berlalu serta para nelayan dapat mendapatkan ikan dengan maksimal,” tandasnya.

Sehingga, tingkat pendapatan para nelayan akan kembali meningkat. Sebelumnya, sejumlah perahu nelayan Sukabumi rusak akibat diterjang gelombang pasang pada awal Desember 2017 lalu.

Kepala Seksi Pengelolaan Tempat Pelelangan Ikan (TPI) DKP Kabupaten Sukabumi Andi mengatakan, gelombang pasang yang menerjang Sukabumi beberapa waktu lalu menyebabkan banyak perahu nelayan rusak.

Kebanyakan perahu nelayan yang rusak itu adalah jenis congkreng atau perahu tradisional. Pada saat terjadi gelombang pasang, perahu tersebut terhempas ombak serta mengalami kerusakan pada beberapa bagian. “Kondisi itu berdampak pada minimnya hasil tangkapan ikan. Selama ini hasil tangkapan ikan nelayan Sukabumi kebanyakan jenis layur, cakalang, dan tuna.”pungkasnya. Rol

 

Lihat Juga...