Dinkes Sukabumi Gempur Difteri dengan ORI

GUNUNGGURUH — Pemerintah Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, melalui Dinas Kesehatan Kabupaten Sukabumi, menggempur penyebaran penyakit mematikan Difteri dengan outbreak response immunization (ORI). Program pencegahan Kejadian Luar Biasa (KLB) Difteri dengan ORI ini merupana program yang telah dinyatakan Kementrian Kesehatan Republik Indonesia seperti pernyataan yang dilansir dari salah satu media online ternama di Indonesia, Menkes Nila Farid Moeloek menyebutkan, Difteri menular, berbahaya dan mematikan, namun bisa dicegah dengan imunisasi.

Menurutnya, saat ini Indonesia tengah menghadapi KLB Difteri di beberapa daerah, termasuk di wilayah Jawa Barat. Terkait hal tersebut, Kementerian Kesehatan melakukan respons cepat KLB dengan langkah ORI di 12 Kabupaten/Kota di 3 provinsi yang mengalami KLB yakni Banten, Jawa Barat, dan DKI Jakarta.

”Adanya satu kasus Difteri terkonfirmasi laboratorium secara klinis sudah dapat menjadi dasar bahwa suatu daerah dinyatakan berada dalam kondisi KLB, karena tingkat kematiannya tinggi dan dapat menular dengan cepat”, ujar Nila Farid Moeloek dilansir dari salah satu media online.

Menurut Menkes, KLB Difteri terjadi karena adanya kesenjangan imunitas atau immunity gap di kalangan penduduk suatu daerah.

”Keadaan ini terjadi karena ada kelompok yang tidak mendapatkan imunisasi atau status imunisasinya tidak lengkap sehingga tidak terbentuk kekebalan tubuh terhadap infeksi bakteri Difteri, yang berakibat akan mudah tertular Difteri. Meski Difteri sangat mudah menular, berbahaya dan dapat menyebabkan kematian, Difteri ini dapat dicegah dengan imunisasi”, tandas Menkes.

Difteri adalah penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diptheriae dan ditandai dengan adanya peradangan pada selaput saluran pernafasan bagian atas, hidung dan kulit.

”Gejala demam yang tidak terlalu tinggi, namun yang terjadi adalah adanya selaput yang menutup saluran napas. Selain itu bakteri tersebut juga mengakibatkan gangguan jantung dan sistem syaraf”, pungkas Menkes.

Untuk itu Program ORI sebagai upaya untuk memberantas Difteri dan mencegah KLB, dilakukan Dinkes Kabupaten Sukabumi salah satunya pemberian vaksin di Kecamatan Gununggururuh Kabupaten Sukabumi Senin, (26/03/2018).

Penanggungjawab Koordinator Imunisasi Puskesmas Gunungguruh Dinkes Kabupaten Sukabumi Eri Kustiawan mengatakan, pihaknya saat ini tengah merealisasikan pemberian vaksin untuk mencegah KLB Difteri dengan sasaran anak usia 1-19 tahun. “Sementara kami menyisir anak-anak yang ada di sekolah-sekolah seperti di PAUD,TK,SD,SMP dan SMA, dengan sasaran anak sebanyak 9622 anak,” kata Eri kepada www.sukabumizone.com usai pemberian vaksin di SDN Gentramasekdas Desa Sirnaresmi Kecamatan Gunugguruh Kabuapten Sukabumi Senin, (26/03).

Menurutnya, pemberian vaksin akan dilakukan sebanyak tiga tahap terhitung dari Februari 2018. Namun, lanjut Eri pemberian tiga tahap ini diberikan jika masih ada indikasi endemis Difteri. “Ya, kami harap hanya satu tahap saja tidak ditemukan adanya kejadian apalagi KLB,” tuturnya.

Imunisasi untuk mencegah Difteri sudah termasuk ke dalam program nasional imunisasi dasar lengkap imbuh Eri, meliputi: (1) Tiga dosis imunisasi dasar DPT-HB-Hib (Difteri, Pertusis, Tetanus, Hepatitis-B dan Haemofilus influensa tipe (b) pada usia 2, 3 dan 4 bulan, (2) Satu dosis imunisasi lanjutan DPT-HB-Hib saat usia 18 bulan, (3) Satu dosis imunisasi lanjutan DT (Difteri Tetanus) bagi anak kelas 1 SD/sederajat, (4) Satu dosis imunisasi lanjutan Td (Tetanus difteri) bagi anak kelas 2 SD/sederajat, dan (5) Satu dosis imunisasi lanjutan Td bagi anak kelas 2-6 SD/sederajat dan seterusnya. “Pemberian vaksin sendiri jelas berbeda untuk 1 sampai 5 tahun vaksin DPT-HB-Hib, 5 sampai 7 tahun DT dan usia 7 sampai 19 tahun TD,” jelasnya.

Ia berharap, dengan ORI angka kejadian Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I) tidak ditemukan di Kabupaten Sukabumi khususnya di Kecamatan Gunungguruh. “Kami harap kerja keras kami membuahkan hasil maksimal,” imbuhnya. Sep

 

Lihat Juga...