Pelajar Sukabumi Ikuti Simulasi Waspada Gempa

SUKABUMI — Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, seringkali dilanda guncangan gempa bumi. Kondisi tersebut disikapi sejumlah pihak dengan menggelar berbagai upaya untuk menghadapi situasi bencana.

Salah satunya dilakukan di lingkungan pendidikan seperti SMA Pesantren Unggul Al Bayan, Desa Sekarwangi, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Sukabumi. Para pelajar di SMA mendapatkan materi pembekalan menghadapi bencana serta simulasi gempa yang diberikan fasilitator penanganan bencana Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Sukabumi.

“Simulasi gempa adalah antisipasi agar anak-anak siap berhadapan dengan musibah yang suatu waktu terjadi,’’ kata Kepala Sekolah SMA Pesantren Unggul Al Bayan Sukabumi Heriyanto, Sabtu (1/9). Selama 20 tahun Al Bayan berdiri kejadian gempa kalaupun ada hanya getaran kecil saja.

Meskipun demikian, potensi terjadinya bencana harus diantisipasi dengan baik. Caranya setiap angkatan pelajar di sekolah itu diberikan materi dalam menghadapi gempa.

Targetnya, mereka mempunyai sikap serta keterampilan yang tidak menyebabkan kecelakaan akibat langkah yang salah. Selain itu ditanamkan juga nilai-nilai bahwa gempa datangnya dari Allah yang merupakan teguran serta peringatan agar selalu mengingat Allah SWT.

“Secara rohani ditanamkan nilai keislaman namun secara teknis mereka memahami sikap terhadap datangnya bencana,’’ tutur Heriyanto. Ia menambahkan di sekolah itu juga sudah disiapkan jalur evakuasi serta titik kumpul ketika terjadi gempa,” ujarnya.

Hal itu ujar Heriyanto, disampaikan pada masa orientasi lapangan di awal pendidikan di sekolah. Para siswa diarahkan ketika terjadi gempa khususnya menuju jalur evakuasi serta titik kumpul dan ada tanda peringatan melalui sirine.

Heriyanto menuturkan, sekolah mempersiapkan sarana ini karena Sukabumi cukup rawan serta seringkali gempa sehingga harus disiapkan. “Terlebih sekolah itu menerapkan sistem boarding school di mana semua pelajar berada di asrama,” tandasnya.

Akibatnya, anak-anal harus siap bukan hanya di kelas akan tetapin ketika mereka tidur di asarama. Terutama apa yang dilakukan ketika terjadi guncangan.

“Sehingga harus ada simulasi agar ketika evakuasi tidak terburu-buru,’’ imbuh Heriyanto. Jumlah pelajar atau santri yang mondok di sekolah itu mencapai 336 orang yang berasal dari berbagai daerah seperti wilayah Jabotabek hingga Sumatera dan Papua.

Salah seorang pelajar SMA Pesantren Unggul Al Bayan, Herdiki Sidki (17) mengatakan, kegiatan simulasi itu sangat bermanfaat bagi para siswa di sekolah itu. “Sukabumi terhitung paling sering gempa saya mengalam empat hingga lima kali,’’ ungapnya.

Herdiki mengatakan, sebelumnya para pelajar sangat terbatas dalam memahami sikap menghadapi bencana. Setelah mendapatkan pembekalan para pelajar menjadi lebih terdidik serta siap ketika menghadapi gempa bumi.

“Misalnya ketika terjadi gempa hal pertama yang dilakukan yakni melindungi kepala, berlindung di bawah meja, menjauhi jendela atau kaca. Selanjutnya melakukan evakuasi ke tempat terbuka serta paling aman dari segala bangunan berpotensi runtuh,” pungkasnya. red

Lihat Juga...

Tinggalkan Balasan