Pemdes Wangunreja Tanggulangi Tingginya Angka Gangguan Jiwa

NYALINDUNG — Pemerintah Desa (Pemdes) Wangunreja Kecamatan Nyalindung Kabupaten Sukabumi Jawa Barat, gelar sosialisasi Pos Jiwa Terpadu (Posjitu) di Aula Desa Wangunreja Kamis, (08/11).  Kegiatan tersebut dihadiri ketua RT, RW, Babinkamtibmas, Babinsa, tokoh masyarakat, lembaga kesehatan, staf Desa Wangunreja dan undangan lainnya.

Kepala Desa Wangunreja Ali Nurdin mengatakan, Pemdes Wangunreja sangat antusias dengan adanya sosialisasi Posjitu. Pasalnya, desa yang dipimpinnya tersebut masuk kategori desa tertinggi yang memiliki penduduk dengan gangguan kesehatan.”Saat ini saja sudah hampir 17 orang yang telah terdaftar mengalami gangguan kejiwaan yang tersebar dibeberapa kedusunan, ” ungkap Ali kepada www.sukabumizone.com Kamis (08/11).

Untuk itu, Pemdes Wangunreja sangat berterima kasih dan mendukung Dinas Kesehatan Kabupaten Sukabumi yang telah mengadakan program Posjitu tersebut. “Sekali lagi kami tegaskan sangat mendukung program Posjitu ini untuk menangani penduduk yang mengalami gangguan kejiwaan dengan cepat dan tepat,” ujarnya.

Ia pun mengulas bahwa pernah membawa salah seorang warganya yang mengalami gangguan jiwa dibantu relawan dari Palang Merah Indonesia (PMI) Kecamatan Nyalindung ke Rumah Sakit Pelabuhanratu guna menjalani perawatan khusus kejiawaan. “Untuk menyikapi hal ini kami pun bekerja sama dengan Kementrian Sosial (Kemensos), ” imbuhnya. Ia berharap, Posjitu dapat meminimalisir tingkat gangguan kejiwaan yang menimpa penduduk Desa Wangunreja.

Sementara itu, Narasumuber Posjitu Dokter Teja mengatakan, 17 orang terdata mengalami ganguan kejiwaan di desa ini merupakan angka tertinggi di dibanding desa lainnya. Bahkan, di tahun ini meningkat dan cukup memprihatinkan dibanding tahun sebelumnya. “Untuk itu, tujuan utama sosialisasi Posjitu adalah untuk menanganinya. Bahkan, secara rinci pada sosialisasi ini kami menjelaskan tata cara pemberian obat secara teratur terhadap pasien kejiwaan. Sebab, tak dipungkiri kebanyakan pasien dari rumah sakit setelah menjalani perawatan diterlantarkan begitu saja. Tidak ada penanganan lebih lanjut sehingga pengobatan menjadi tidak teratur yang mengakibatkan penyakit pasien kambuh kembali,” tuturnya.

Lanjut Teja, pihaknya telah melakukan penanganan masalah kejiwaan dengan sistem jemput bola yaitu mengunjungi langsung rumah pasien. ” Namun, sistem jemput bola ini tidak bisa menilai seberapa teratur pasien minum obat. Sebab, dalam sehari itu tidak boleh pasien terputus minum obat, ” tandasnya.

Ia berharap, Posjitu di Desa Wangunreja dapat meminimalisir tingginya angka penduduk dengan gangguan kejiwaan. ” Dan menekan angka tersebut sampai menangani pasien hingga sembuh seperti sedia kala,” pungkasnya. (Restu)

Lihat Juga...

Tinggalkan Balasan