Seorang Anak di Sukabumi Harus Rela Merangkak Tiga Kilo Meter untuk Sekolah

SUKABUMI — Meski kekurangan fisik namun tak menghambat seorang anak di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat untuk menuntut ilmu di sekolah. Mukhlis Abdul Kholik (8) atau sering disapa Adul pelajar kelas III di SDN 10 Cibadak, Kabupaten Sukabumi sejak lahir mengalami kelainan pada bagian kaki. Ia tidak dapat berjalan seperti anak normal lainnya. Ia hanya mampu menggunakan kedua tanganya sebagai tumpuan untuk berjalan.

Untuk dapat pergi ke sekolah dan ke masjid bukan hal yang mudah bagi Adul. Terlebih rumah Adul bersama orangtua yang mengasuhnya berada di atas perbukitan yaitu di Kampung Cikiwul Tonggoh RT 01 RW 01 Desa Sekarwangi Kecamatan Cibadak.

Setiap harinya Adul harus berjalan dengan merangkak ke sekolah menuruni turunan yang terjal serta tanjakan yang cukup curam. Jarak antara rumah Adul dengan sekolahnya sekiar tiga hingga lima kilometer.

“Setiap hari ke sekolah jalan ditemani ibu,” kata Adul ditemui ketika pulang dari sekolahnya Kamis (8/11) siang. Meskipun cukup lelah sebab dilakukan dengan merangkak Adul mengaku tetap semangat sebab ingin belajar.

Ia kini sudah tidak digendong lagi ke sekolah karena sudah besar. Sehingga jalan sendiri walaupun merangkak.

Ketika ditanya cita-citanya Adul menjawab singkat ingin menjadi petugas pemadam kebakaran. “Supaya dapat membantu orang lain,” ujar dia yang suaranya kurang jelas atau sengau karena kelainan sejak lahir.

Orangtua yang merawat Adul sejak kecil adalah Deden Hamdani (50) dan Pipin (45). Adul merupakan anak dari kakak kandung Deden yang mengalami sakit serta akhirnya dirawat sejak kecil serta telah dianggap anak sendiri oleh pasangan tersebut.

“Adul biasanya berangkat ke sekolah sekitar pukul 06.30 WIB serta pulang pukul 10.00 WIB,’’ terang ibu yang merawat Adul, Pipin. Pada saat berangkat maupun pulang Adul berjalan dengan cara merangkak sebab keterbatasan yang dimilikinya.

Namun tutur Pipin, Adul memiliki kelebihan sebab tidak minder serta tetap memiliki semangat untuk belajar. “Bahkan meskipun menempuh perjalanan cukup jauh Adul tidak kelelahan serta belajar seperti anak yang lainnya,” imbuhnya.

Awalnya kata Pipin sebagai orangtua yang mengantar anaknya ke sekolah merasa minder dengan orangtua maupun murid yang lain. tapi lama kelamaan karena melihat semangat Adul maka ia dan orangtua lain di sekolah memberikan dukungan.

Pipin menuturkan, Adul terpaksa berjalan merangkak karena hidup keluarga itu cukup pas-pasan. Di mana suami dari Pipin hanya bekerja serabutan mencari batu. Sementara untuk ongkos naik ojek dari rumah ke sekolah mencapai sekitar Rp 30 ribu per harinya.

“Adul berjalan merangkak ke sekolah sekitar tiga kilometer dengan melalui jalan pintas sebuah pesantren. Sementara bila melalui jalan lainnya bisa mencapai lima kilometer,” tutur Pipin.

Selain sekolah kata Pipin, Adul juga belajar mengaji selepas shalat magrib di sebuah tempat pengajian yang jaraknya cukup jauh dari rumah. ‘’ Kalau dilarang berangkat mengaji Adul suka nangis,’’ terangnya.

Saat ini, keluarga berharap ada bantuan tongkat kepada Adul agar berangkat ke sekolah tidak merangkak lagi. Hal ini akan meringankan perjalanan Adul ke sekolah. Sebabnya bila berjalan merangkak pakaian seragam sekolah Adul seringkali kotor terkena tanah serta genangan air. Bantuan lainnya yang diharapkan adalah peralatan sekolah untuk Adul.

Wali Kelas III SDN 10 Cibadak Euis Khodijah mengatakan, Adul merupakan anak yang baik serta rajin belajar. “Anak itu baik terutama dalam menerima materi pelajaran sama dengan anak yang lainnya,’’ cetus dia.

Meskipun ada kekurangan, Adul tidak merasa minder. Hal ini ditunjukkan dengan sekolah yang rajin serta mengikuti kegiatan ektrakurikuler seperti pramuka dan olahraga.

“Prestasi Adul pun tidak kalah dengan pelajar lainnya. Bahkan pada saat duduk di kelas I Adul pernah mendapatan rangking. Selain itu Adul tidak pernah bolos terkecuali sakit meskipun hujan deras ia tetap berangkat ke sekolah,” pungkasnya. red

Lihat Juga...