Puluhan Hektare Sawah Petani Di Desa Wangunreja Terancam Gagal Panen

NYALINDUNG– Puluhun hektare area pesawahan milik warga di Desa Wangunreja Kecamatan Nyalindung Kabupaten Sukabumi Jawa Barat, terancam gagal panen. Pasalnya, jalur irigasi yang terbentang puluhan kilo meter itu rusak berat. Kerusakan tersebut nampak jelas pada bagian bangunan pintu air yang menjadi jalur pembagi air ke sawah milik warga tersebut.

Dari informasi yang diperoleh www.sukabumizone.com meyebutkan, selain banyaknya pintu air yang rusak berat, juga di sebabkan adanya pendangkalan-pendakalan lumpur sehingga badan irigasi menyempit. Bahkan, jebolnya Tembok Penahan Tanah (TPT) juga menjadi faktor penyebab aliran air tidak normal.

Salah seorang Warga Kampung Wangunreja Tomson (50) mengatakan, dari puluhan hektar sawah yang setiap tahunnya menghasilkan puluhan ton padi, saat ini hanya tiga puluh persen yang tersisa. ” Yang tiga puluh presen ini pun dihasilkan dari adanya musim penghujan,” kata Tomson kepada www.sukabumizone.com belum lama ini.

Menurutnya, ada enam blok yang saat ini tidak teraliri air. Sedangkan, blok tersebut merupaka area paling terluas di Desa Wangunreja. “Bahkan, tak sedikit warga ricuh akibat berebutan air, ” ungkapnya.

Lanjut Tomson, warga akan terus menuntut peran pemerintah daerah maupun pemerintah pusat agar secepatnya memberikan solusi. ” Pemerintah harus segera mengambil langkah-langkah untuk meminimalisir pemicu bentrok antar warga,” tuturnya.

Sementara itu, ia bersama para pengarap lainnya berserta ketua blok hanya melakukan pemeliharaan seadanya. ” Dan untuk mengangkat lumpur penyebab irigasi menyempit harus menggunakan alat berat yang akan membutuhkan biaya besar.  Selain itu akibat debit air yang tida teratur tidak sedikit warga yang memilih menanam kayu dan pisang di sawah yang harusnya ditanami padi, ” lanjutnya.

Ia berharap, pemerintah secepatnya melakukan normalisasi kembali jalur irigasi dari hulu hinga kehilir agar petani kembali sejahtra. ” Apalagi mayoritas warga Desa Wangunreja merupakan petani.
Dari dulu Desa Wangunreja dikenal dengan sebutan lumbung padi di Kecamatan Nyalindung yang dapat menghasilkan 80 Ton lebih padi permusimnya. Dan dikala irigasi masih normal pertauhnya mampuh tiga kali bercocok tanam, tapi kali ini kami hanya mampu dua kali itupun dengan air yang saling berebut,” tandasnya.

Sementata itu, Ketua Perhimpunan Petani Pemakai Air (P3A) Desa wangunreja Yaman menjelaskan, akibat kurangnya air dan banyaknya pintu irigasi yang rusak jelas menjadikan sebuah pemicu permasalahan untuk para petani di Desa wangunreja. ” Untuk menangani hal itu kami tim P3A bekerja sama dengan Pemerintah Desa Wangunreja mengadakan sebuah langkah untuk meminimallisir permasalahan saat ini yang menimbulkan cekcok antar warga dan ketua blok dengan blok,” ujarnya.

Sementara itu, untuk memecahkan masalah tersebut pihaknya melakukan perbaikan pintu air dan TPT yang rusak tersebut namun bersifat sementara karena tidak akan bertahan lama karena harus di lakukan normalisasi.”Selain itu, ke depan kami akan mengatur jadwal air dalm waktu 24 jam secara bergiliran, saat ini itu langkah-langkah kami dari P3A.  Alhamdulilah untuk saat ini terantisipasi, “imbuhnya.

Ia mengaku, tak jarang P3A mendapatkan protesan dari warga yang tidak sabar. ” Namun, aspirasi warga sementar kami tampung. Kami mengharapkan instasi terkait secepatnaya mengambil sikap baik itu pemeliharaan atau normalisasi jalur irigasi,” pungkasnya. (Restu/Ginanjar)

Lihat Juga...