Sukabumi Gelar ‘Kujang Day’ Lestarikan Budaya Sunda

SUKABUMI — Elemen masyarakat di Kota Sukabumi Jawa Barat terutama pendekar silat mendeklarasikan Kujang Day di Pondok Pesantren Dzikir Alfath, Kecamatan Gunungpuyuh, belum lama ini. Kegiatan itu untuk melestarikan budaya sunda dari pengaruh perkembangan zaman.

Deklarasi Kujang Day berisi pagelaran budaya silat yang dilakukan dalam rangka memeriahkan hari ulang tahun (HUT) Bhayangkara ke-73. Pada momen tersebut hadir Wali Kota Sukabumi, Achmad Fahmi, Kapolres Sukabumi Kota AKBP Susatyo Purnomo Condro serta pimpinan Ponpes Dzikir Alfath KH Fajar Laksana. Selain itu para pendekar silat dari Federasi Pencak Silat Tradisi Internasional (FPTSI).

“Pemkot berupaya mengangkat serta melestarikan seni dan budaya sunda,” kata Wali Kota Sukabumi Achmad Fahmi. Salah satunya memberikan apresiasi atas digelarnya Kujang Day.

Kujang tutur Fahmi, merupakan salah satu ciri khas di wilayah Jawa Barat ataupun Sunda. Dilihat dari sejarahnya, kujang itu mulai ada di Jawa Barat sekitar abad ke-8. Namun dalam catatan sejarah yang lain, dinyatakan abad ke 14 ketika Padjajaran yang dipimpin oleh Prabu Siliwangi saat itu berkibar baik kekuasaan maupu pelayanan.

Pada waktu dulu kujang tersebut memiliki beberapa fungsi. Di antaranya kujang sebagai pusaka kujang sebagai alat perang, kujang untuk upacara, dan bertani. Di samping itu dalam perkembangan sejarah bukan sekedar fungsi namun lebih menjadi simbol bagaimana semangat perjuangan, tak mengenal lelah.

“Semangat masyarakat Sunda adalah semangat kujang tidak boleh ada warga Jawa Barat yang mudah menyerah serta mudah tertinggal perkembangan zaman, “ujar Fahmi. Harapannya orang sunda harus memimpin, bukan mengekor, semangat itu yang ingin di wujudkan dalam kujang day.

Acara kujang day ini dapat menjadi kegiatan nasional dengan berbagai dukungan semua pihak. Hal itu sebagai upaya untuk melestarikan seni budaya sunda dari perkembangan zaman.

“Kami mengucapkan terimakasih atas adanya kegiatan ini,” imbuh Fahmi. Ke depan, tidak hanya di lingkungan pondok pesantren Alfath, akan tetapi lebih besar menjadi budaya lebih besar serta menjadi sejarah di Kota Sukabumi. (rol)

Lihat Juga...

Tinggalkan Balasan