Kelurahan Tangguh Bencana Jadi Target Pemkot Sukabumi

SUKABUMI — Kota Sukabumi Jawa Barat termasuk salah satu daerah yang rawan gempa bumi sebab wilayah ini berada di atas patahan Cimandiri. Karena itu, Kota Sukabumi menarget seluruh kelurahan dapat tangguh bencana atau katana.

Hal tersebut mengemuka dalam acara informasi, komunikasi, dan edukasi (KIE) Kebencanaan 2019 sosialisasi dan simulasi penanggulangan bencana di SDN Cicadas, Kelurahan Cikundul, Kecamatan Lembursitu, Kota Sukabumi, belum lama ini. Acara yang melibatkan peserta dari masyarakat, majelis taklim, RT/RW, PKK, posyandu, serta aparat kelurahan itu menjadi salah satu dukungan dalam program nonfisik kegiatan TNI manunggal membangun desa (TMMD).

‘’Kami berupaya mendukung terwujudnya kelurahan tangguh bencana (Katana) menuju Sukabumi zona tangguh bencana (Zotabe),’’ kata Dandim 0607 Kota Sukabumi, Letkol Kav Mujahidin. Dasarnya mengacu pada fakta Sukabumi dikenal sebagai kota yang berdekatan dengan patahan Cimandiri yang terbagi ke dalam tiga segmen diantaranya Cimandiri, Nyalindung-Cibeber, serta Rajamandala.

Mujahidin menjelaskan, pergeseran masing-masing patahan itu berbeda dengan 0,55 MM per tahun, 0,44 MM per tahun dan 0,1 MM per tahun. Patahan tersebut memanjang dari Palabuhanratu sampai dengan Cianjur serta diperkirakan bersambung lagi di Lembang.

“Kota Sukabumi, berdiri tepat di atas patahan dan bergerak dengan mekanisme mendatar. Data yang diperoleh telah banyak kejadian gempa kecil dari patahan baik terasa dan tidak, namun belum ada rekam sejarah mengenai berskala M 6,0 yang pernah terjadi di patahan itu,”tuturnya.

Jika sebuah kota berdiri di atas patahan kata Mujahidin adalah potensi yang berbahaya. Karena itu diperlukan pembinaan Katana yang didasarkan pada Perka BNPB Nomor 1 Tahun 2012 tentang Pedoman Desa atau Kelurahan Tangguh Bencana.

“Katana, merupakan kelurahan yang memiliki kemampuan mandiri untuk beradaptasi dalam menghadapi ancaman bencana serta memulihkan sendiri dengan segera dari dampak bencana yang merugikan. Disebut katana sebab ada sejumlah indikator yakni legislasi yakni peraturan atau kebijakan pengurangan resiko bencana pada kelurahan, perencanaan seperti musyawarah kebencanaan dan rencana penanggulangan bencana, rehabilitasi bencana dan pengurangan resiko bencana level kelurahan,”paparnya.

Selain itu, kelembagaan seperti forum kebencanaan dari usur RT RW, pendanaan yakni biaya mobilisasi dana dari APBD atau manajemen kebencanaan pra bencana, maupun pascabencana. Terakhir pengembangan kapasitas seperti pelatihan maupun pendidikan kebencanaan di kelurahan serta penyelenggaraan penanggulangan bencana diantaranya mitigasi, sistem peringatan dini, ronda siaga.

Tujuan sosaialisasi serta simulasi bencana di program TMMD, untuk memberikan pelayanan informasi rawan bencana berupa KIE penanggulangan bencana. ‘’Pembinaan terhadap kelurahan guna mewujudkan Katana serta membangun sinergitas kecamatan dan kelurahan,’’ kata dia. Target lainnya untuk meningkatkan kewaspadaan serta kesiapsiagan measyarakat dalam menghadapi ancana bencana.

Kepala Seksi Pencegahan dan Kesiapsiagaan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Sukabumi Zulkarnain Barhami menambahkan, kegiatan itu dinilai efektif dalam mewujudkan Katana menuju Zotabe. “Karena, acara ini melibatkan semua elemen masyarakat terkait dalam hal peningkatan kesadaran menghadapi potensi bencana di kelurahan,” pungkasnya. (red)

Lihat Juga...