Di Sukabumi Ribuan Hektare Lahan Pertanian Gagal Panen

SUKABUMI — Seluas 2.700 hektare lahan pertanian di Kabupaten Sukabumi Jawa Barat, alami gagal panen atau puso. Ribuan hektare lahan itu tersebar di 32 kecamatan dari 47 kecamatan di Kabupaten Sukabumi.

‘’Lahan pertanian padi yang puso kini mencapai seluas 2.700 hektare,’’ ungkap Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sukabumi, Sudrajat, Kamis (8/8). Sementara, lahan pertanian yang terdampak kekeringan dari tingkat ringan, sedang, serta berat mencapai seluas 6.000 hektare.

Jumlah lahan puso karena kekeringan dinilai kemungkinan besar bertambah banyak. Hal tersebut terjadi jika kondisi kekeringan masih terus terjadi di sepanjang Agustus 2019.

Menurut Sudrajat, lahan persawahan yang terdampak kekeringan berada di 32 kecamatan. Kebanyakan wilayah yang terdampak tersebar di selatan Sukabumi yang rata-rata sawahnya tadah hujan. “Dalam artian areal pertaniannya mengandalkan sarana pengairan dari turunnya hujan,” ujarnya.

Sudrajat menjelaskan, dari ribuan hektare lahan yang kekeringan ada yang akan masuk musim panen. Harapanya lahan itu bisa tertolong serta bisa menghasilkan produksi yang maksimal.

Pemda, berupaya memberikan bantuan pompanisasi ke sejumlah lahan pertanian yang masih terdapat potensi air. Sementara, lahan pertanian yang tidak ada sumber air akan mengalami kesulitan pengairan.

‘’ Untuk lahan pertanian yang terkena bncana kekeringan dan tidak masuk asuransi akan diberikan kompensasi bantuan benih,’’ kata Sudrajat. Pemberian benih padi tersebut akan dilakukan pada musim yang akan datang.

Pada momen kemarau ini, sebaiknya petani memang beralih ke tanaman palawija. Apalagi, Pemkab Sukabumi juga tengah serius melakukan pengembangan kawasan buah-buahan.

Di sisi lain, kata Sudrajat, meskipun mengalami kekeringan namun produksi beras di Sukabumi masih surplus. Sebab, hingga September 2019 mendatang masih ada panen dan hasilnya tersebut masih melebihi kebutuhan di masyarakat.

Sudrajat menerangkan, pada Juni 2019 luas panen 18.459 hektare serta produksi beras 43.064 ton dan kebutuhan 21.038 ton jadi surplus 22.026 ton. Pada Juli 2019, luas panen 22.320 hektare, produksi beras 78.952 ton serta kebutuhan 21.038 ton sehingga surplus 57.194 ton.

Sementara di Agustus luas panen diperkirakan 9.561 hektare produksi beras 33.158 ton, kebutuhan 21.038 sehingga surplus 12.120 ton. Terakhir September luas panen 5.974 hektare produksi beras 21.102 ton kebutuhan 21.038 ton serta surplus 64 ton.

Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kecamatan Surade H Sahlan menuturkan, pada musim kemarau petani mayoritas telah beralih menanam tanaman palawija seperti semangka. ” Peralihan ini dilakukan untuk mengantisipasi dampak kekeringan akibat kemarau yang mulai terasa di selatan Sukabumi,” tuturnya.

Apabila tetap menanam padi dikhawatirkan akan kesulitan mendapatkan pengairan. Apalagi, mayoritas lahan pertanian di selatan termasuk sawah tadah hujan. Dalam artian lahan itu sangat mengandalkan guyuran hujan untuk mengairi areal persawahan.

“Sehingga, sejak awal puasa petani telah menanam palawija khususnya semangka. Tanaman semangka lebih sedikit membutuhkan pasokan air bila dibandingkan dengan padi,” pungkasnya. (rol)

Lihat Juga...

Tinggalkan Balasan