Di Sukabumi, Kasus DBD Mencapai 683 Sepanjang 2019

SUKABUMI — Kasus penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kota Sukabumi dari Januari sampai September 2019 mencapai sebanyak 683 kasus. Kasus tertinggi tercatat pada Juli 2019.

“Dari data yang ada kasus DBD sampai September mencapai 683 kasus,’’ kata Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Sukabumi Lulis Delawati kepada wartawan belum lama ini. Rinciannya, kasus DBD pada Januari sebanyak 92 kasus, Februari 93 kasus, Maret 94 kasus, April 70 kasus, serta Mei 63 kasus.

Ia menuturkan, pada Juni sebanyak 50 kasus, Juli 107 kasus, Agustus 86 kasus, serta September sebanyak 28 kasus. Dari data tersebut menunjukkan kasus meningkat pada rentang awal tahun sampai pertengahan 2019 lalu.

Bahkan, diawal Januari 2019 ada seorang warga di Kecamatan Lembursitu yang meninggal dunia akibat DBD. Sementara dari Agustus sampai saat ini belum ada peniningkatan kasus.

Lulis menjelaskan, kasus DBD tinggi pada awal tahun karena merupakan musim hujan. Pasalnya, pada musim hujan menyebabkan genangan air yang menjadi tempat berkembang biak nyamuk Aedes Aegypti. Sementara itu, akibat masyarakat yang masih belum memperhatikan masalah kebersihan lingkungan.

Oleh sebab itu Lanjut Lulis, dalam menghadapi musim hujan diperlukan upaya pencegahan meningkatnya kasus DBD. Dinkes mengimbau, masyarakat bisa rajin menjaga kebersihan di area tempat tinggal. Seperti, menggalakan gerakan menguras, menutup dan mengubur (3M) dalam rangka pemberantasan sarang nyamuk (PSN).

Upaya lainnya dengan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) di lingkungannya masing-masing. Langkah tersebut dinilai efektif untuk menekan penyebaran penyakit DBD.

Dari data yang ada menyebutkan, jumlah daerah yang cukup tinggi kasus DBD diantaranya, Kelurahan Subangjaya serta Cisarua Kecamatan Cikole, Kelurahan Nanggeleng Kecamatan Citamiang, dan Kelurahan Cipanengah Kecamatan Lembursitu.

Wali Kota Sukabumi Achmad Fahmi menerangkan, wilayah Sukabumi saat ini masih masuk musim kemarau. “Meskipun kemarin sempat hujan, tapi beberapa hari terakhir tidak turun hujan,’’ ujarnya.

Sambung Fahmi, meskipun demikian, kewaspadaan menghadapi penyakit di musim pancaroba atau peralihan harus tetap dilakukan. seperti menggiatkan gerakan PHBS dan PSN di rumah masing-masing. “Jika hal tersebut dibiasakan maka berbagai potensi penyebaran penyakit bisa dihindari,” pungkasnya. (Rol)

Lihat Juga...

Tinggalkan Balasan