Di Sukabumi Kasus Baru HIV-AIDS Tetap Muncul Saat Pandemi

SUKABUMI — Kasus baru HIV-AIDS di Sukabumi Jawa Barat, sepanjang 2020 masih muncul di tengah penanganan pandemi Covid-19. Karena itu, Pemkot Sukabumi tetap memprioritaskan pengendalian HIV-AIDS.

”Kasus baru HIV-AIDS dalam kurun waktu Januari-Agustus 2020 sebanyak 101,” kata Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Sukabumi Fifi Kusumajaya di sela-sela rapat koordinasi penguatan warga peduli AIDS (WPA) se-Kota Sukabumi tahun 2020 di Ruang Pertemuan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Sukabumi, Selasa (27/10).

Menurutnya, kasus baru HIV-AIDS ini diharapkan tidak mengalami lonjakan hingga akhir tahun. Ia membandingkan pada 2019 lalu total kasus baru HIV-AIDS sebanyak 169 serta 2018 sebanyak 144.

Sementara kasus HIV-AIDS sejak 2000 sampai Agustus 2020 sebanyak 1.667. Di mana sekitar 38 persen merupakan warga Kota Sukabumi serta mayoritas yakni warga luar yang ditangani di Kota Sukabumi.

Wali Kota Sukabumi sekaligus Ketua KPA Kota Sukabumi Achmad Fahmi mengatakan, acara itu sebagai bagian memperkuat program pencegahan serta penanggulangan HIV-AIDS dengan melibatkan WPA di tengah masa pandemi Covid-19.

”Saat ini fokus pemerintah sangat tersedot kondisi pandemi, tapi tetap memprioritaskan pada penanganan HIV-AIDS,” kata Fahmi. Hal ini ditunjukkan dengan penguatan WPA, bagaimana mengendalikan penyebaran serta menurunkan kasus baru HIV-AIDS.

Caranya, pertama menjaga angka prevelensi HIV-AIDS untuk warga usia 15-49 tahun sangat penting. Kedua edukasi penggunaan alat kontrasepsi dalam hubungan seks salah satu cara memutus mata rantai.

Ketiga meningkatkan wawasan remaja terkait pengetahuan komprehensif khususnya pemuda 19-24 tahun serta di sini akan melihat peran WPA. Keempat bagaimana mempermudah akses penderita mendapatkan layanan dalam hal pengobatan HIV-AIDS.

Empat kata kunci itu, bukan hal mudah bisa dilakukan pemda dan KPA, sehingga WPA dibentuk untuk mempermudah penjangkauan. Di mana peran WPA penting karena berhadapan dengan warga dan jadi bagian tidak terpisahkan memutus mata rantai penyebaran.

Khususnya menelusuri wilayah yang dianggap proses tumbuh serta berkembangnya HIV-AIDS dan butuh kerja lapangan. Hal itu sebab kasus HIV-AIDS mengalami kenaikan.

Fahmi merinci, pada 2018 kasus baru HIV-AIDS mencapai sebanyak 144, 2019 sebanyak 169, dan 2020 sampai Agustus mencapai 101 kasus baru. Sementara secara akumulatif kasus HIV-AIDS sejak 2000 hingga 2020 sebanyak 1.667.

Terjadi kenaikan kasus bisa jadi sebab perilaku manusia dan faktor lainnya. ”Penanganan HIV jangan dilupakan di tengah pandemi, mari sama-sama berkolaborasi meningkatkan kinerja dalam rangka edukasi dan informasi,” pungkasnya. (rol)

Lihat Juga...

Tinggalkan Balasan