
NYALINDUNG, sukabumizone.com || Gemuruh air hujan yang tak kunjung reda sejak Sabtu pagi menjadi saksi bisu kembali lumpuhnya sebagian akses utama penghubung Sukabumi menuju Sagaranten. Tembok Penahan Tanah (TPT) yang baru seumur jagung, lengkap dengan identitas kebanggaan bertuliskan “Jabar Istimewa”, harus menyerah pada hantaman alam di Kampung Langkob, Desa Nyalindung, Kabupaten Sukabumi.
Minggu dini hari, 11 Januari 2026, sekitar pukul 04.00 WIB, struktur beton yang diproyeksikan melindungi badan jalan itu ambrol ke jurang sedalam sekian meter. Kejadian ini memaksa arus lalu lintas kembali menggunakan sistem buka-tutup, menyisakan kekhawatiran bagi pengendara yang melintas.
Kronologi di Balik Kabut Subuh
Asep Suhenda (39), warga setempat yang menyaksikan sisa-sisa reruntuhan di pagi buta, menuturkan bahwa tanda-tanda kerusakan sebenarnya sudah terbaca oleh mata warga.
“Emang dari beberapa hari sebelumnya juga sudah terlihat mau longsor karena curah hujan tinggi,” ungkap Asep kepada tim redaksi.
Menurut Asep, hujan dengan intensitas tinggi telah mengguyur kawasan tersebut sejak Sabtu pagi tanpa henti. Puncaknya pada Sabtu malam, debit air yang besar diduga merembes ke pori-pori tanah di balik dinding TPT, menciptakan tekanan hidrostatik yang akhirnya merubuhkan konstruksi sepanjang kurang lebih empat meter tersebut.
Jejak Berulang di Titik yang Sama
Ironi menyelimuti peristiwa ini. Longsoran di Kampung Langkob bukanlah fenomena baru. Berdasarkan catatan warga, titik koordinat ini memiliki riwayat kerusakan yang sangat repetitif.
Desi, warga lainnya, mencatat bahwa peristiwa serupa pernah terjadi pada Desember 2025 lalu. Hanya berselang satu bulan sejak kejadian terakhir, struktur jalan yang baru saja diperbaiki dan dipasangi atribut “Jabar Istimewa” kembali mengalami kegagalan konstruksi akibat faktor alam. Hal ini memicu pertanyaan mengenai efektivitas desain TPT di zona yang secara geologis memang rawan pergerakan tanah tersebut.
Situasi Terkini: Separuh Jalan dan Bayang-bayang Bahaya
Hingga laporan ini diturunkan, kondisi di lokasi masih memprihatinkan. Berikut adalah fakta lapangan yang terpantau:
Lalu Lintas: Kendaraan masih bisa melintas namun hanya menggunakan satu lajur (sistem buka-tutup). Beruntung, keberadaan jalan coran tambahan membuat ruang gerak kendaraan sedikit lebih lega meski harus bergantian.
Risiko Susulan: Mengingat hujan masih terus mengguyur kawasan Nyalindung hingga Minggu siang, potensi longsor susulan tetap tinggi. Terlebih, bagian bawah TPT merupakan jurang yang curam.
Imbauan: Pengendara, khususnya kendaraan berat, diimbau untuk ekstra waspada saat melewati titik Langkob, terutama pada malam hari atau saat hujan deras menyamarkan pandangan dan kondisi tanah.
Peristiwa ini menjadi pengingat bagi pihak terkait bahwa pembangunan infrastruktur di jalur selatan Sukabumi memerlukan kajian teknis yang lebih mendalam, mengingat topografi ekstrem dan anomali cuaca yang kian sulit diprediksi.
Reporter: Dede Mardi
Redaktur: Ginanjar





