
CIKEMBAR,sukabumizone.com ll Pemerintah Desa Bojong, Kecamatan Cikembar, Kabupaten Sukabumi, telah merealisasikan pembangunan jalan lingkungan permukiman melalui program Bantuan Provinsi (Banprop) Tahun Anggaran 2025.
Pembangunan tersebut berlokasi di Kampung Ciburial, RT 001–002/010, Kedusunan Sungapan, dan rampung dilaksanakan pada akhir Desember 2025.
Berdasarkan papan informasi kegiatan di lokasi, pembangunan jalan lingkungan tersebut memiliki volume sesuai Rencana Anggaran Biaya (RAB) sepanjang 485 meter dengan lebar 1 meter dan ketebalan 0,12 meter, dengan total anggaran sebesar Rp98 juta yang bersumber dari APBDesa Tahun 2025 melalui Banprop Provinsi Jawa Barat.
Kasi Pemerintahan Desa Bojong, Nanang Sutisna, menjelaskan bahwa dalam pelaksanaannya, pembangunan jalan tersebut justru melebihi target RAB. Di lapangan, realisasi panjang jalan mencapai sekitar 520 meter.
“Pekerjaan sudah direalisasikan di bulan Desember, di akhir tahun. Anggaran Rp98 juta itu sesuai RAB, gambar, dan perencanaan dari Dinas Perkim. Pelaksanaannya melibatkan pemerintah desa dan dikerjakan oleh warga setempat,” ujar Nanang kepada sukabumizone.com , Sabtu (24/1/2026).
Ia menambahkan, selain kelebihan panjang jalan, pada beberapa titik juga terdapat penyesuaian ketebalan beton. Jika dalam RAB ditetapkan 0,12 meter, di lapangan ada bagian yang mencapai ketebalan hingga 0,17 meter.
“Penyesuaian ini dilakukan berdasarkan hasil pra-sosialisasi dan keinginan warga, terutama di titik-titik yang dinilai rawan dan membutuhkan ketahanan lebih. Semua itu sudah dibahas dan disepakati saat sosialisasi yang dihadiri RT, RW, dan unsur terkait,” jelasnya.
Nanang mengungkapkan, kelebihan panjang dari 485 meter menjadi 520 meter dilakukan agar pekerjaan tidak terkesan setengah jadi. Menurutnya, apabila tidak diselesaikan sekalian, maka dikhawatirkan akan menimbulkan persoalan di kemudian hari.
“Kalau tidak diselesaikan, tanggung. Nunggu kapan lagi. Jadi diputuskan diselesaikan sekalian sesuai hasil musyawarah,” katanya.
Namun demikian, dalam proses pasca-pengerjaan sempat muncul kendala di lapangan. Jalan yang seharusnya belum boleh dilalui kendaraan selama 7 hingga 15 hari sesuai kesepakatan, terpaksa dibuka lebih cepat oleh warga.
“Itu karena alasan tidak adanya jalan alternatif yang dekat. Padahal sebenarnya ada, hanya harus memutar dan jaraknya lebih jauh. Ditambah curah hujan tinggi, akhirnya sekitar 40 meter permukaan jalan mengalami kerusakan ringan atau megelupas,” terangnya.
Terkait hal tersebut, Nanang menegaskan bahwa dalam ketentuan Banprop terdapat masa pemeliharaan selama tiga bulan. Kerusakan yang terjadi akan diperbaiki kembali setelah kondisi cuaca memungkinkan.
“Kalau diperbaiki sekarang, hujan masih tinggi dan jalan harus ditutup lagi. Kalau ditutup, warga juga keberatan. Jadi nanti setelah masa pemeliharaan, akan diperbaiki kembali,” ujarnya.
Ia pun mengimbau kepada masyarakat agar ke depan lebih memahami tahapan pembangunan dan ikut menjaga hasil pekerjaan. Menurutnya, keberhasilan pembangunan desa membutuhkan kerja sama antara pemerintah desa dan masyarakat.
“Harapannya ada kerja sama. Sosialisasi sudah dilakukan, jadi mohon dipahami. Bangun desa itu butuh kebersamaan, karena biaya sekecil apa pun sekarang terasa berat,” pungkasnya.
Hal senada disampaikan Kepala Desa Bojong Lahudin, yang berharap ke depan masyarakat dapat lebih sabar dan mendukung setiap program pembangunan demi kepentingan bersama.
Reporter : Restu Virmansyah
Redaktur : Ginda Ginanajar





