SUKABUMI KAB, sukabumizone.com || Palang Merah Indonesia (PMI) bersama Palang Merah Jepang terus menggencarkan penguatan kesiapsiagaan dan mitigasi bencana melalui rangkaian Program School and Community Resilience yang dilaksanakan sepanjang Januari 2026 di sejumlah desa dan sekolah.
Country Coordinator Palang Merah Jepang di Indonesia, Teuku Awaluddin, mengatakan program ini merupakan bagian dari rencana kolaborasi berkelanjutan antara PMI dan Palang Merah Jepang dalam membangun ketangguhan masyarakat, baik di tingkat desa maupun sekolah.
“Pada Januari 2026 ini kami melaksanakan berbagai kegiatan di desa dan sekolah yang seluruhnya terintegrasi dalam Program School and Community Resilience hasil kerja sama Palang Merah Indonesia dan Palang Merah Jepang,” ujar Teuku Awaluddin, Sabtu (24/1/2026).
Di tingkat desa, kegiatan difokuskan pada Pelatihan Manajemen Tanggap Darurat Bencana yang melibatkan unsur pemerintah desa, anggota Siaga Bencana Berbasis Masyarakat (SIBAT), serta tokoh masyarakat. Pelatihan ini bertujuan agar desa memiliki tim yang siap dan tangguh dalam merespons kondisi darurat sebelum bantuan dari pihak luar tiba.
“Kami menekankan bagaimana pihak desa mampu mengelola operasi tanggap darurat, mulai dari pelayanan dapur umum, melakukan asesmen kebutuhan, hingga distribusi bantuan dan layanan lainnya,” jelasnya.
Pelatihan tersebut telah dilaksanakan di tiga desa, yakni Desa Cidadap, Desa Cisolok, dan Desa Cikahuripan. Sementara itu, di sektor pendidikan, PMI dan Palang Merah Jepang mengemas kegiatan dalam bentuk event Kesiapsiagaan Sekolah yang melibatkan siswa dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari SD, SMP, hingga SMA.
Salah satu kegiatan berlangsung di SD Pajangan dan delapan sekolah lainnya, di mana para siswa mengikuti simulasi kebencanaan. Menurut Teuku, simulasi ini penting dilakukan secara rutin agar siswa memahami langkah-langkah yang harus dilakukan ketika bencana terjadi.
“Simulasi ini menjadi media edukasi yang efektif agar anak-anak mengetahui apa yang harus mereka lakukan saat menghadapi situasi darurat,” ujarnya.
Selain simulasi, kegiatan juga diisi dengan lomba mewarnai bertema kebencanaan yang memuat pesan-pesan mitigasi. Hasil karya siswa kemudian dipajang di lingkungan sekolah sebagai sarana edukasi visual.
Program ini juga menanamkan kepedulian terhadap lingkungan, seperti mengajak anak-anak untuk tidak menebang pohon sembarangan dan tidak membuang sampah, sebagai bagian dari upaya pengurangan risiko bencana.
Pada jenjang SD, SMP, dan SMA, kegiatan diperkuat dengan pemilihan Duta Kesiapsiagaan Sekolah. Para duta tersebut diharapkan menjadi motor penggerak dalam menyebarluaskan edukasi kebencanaan kepada siswa lainnya.
“Duta Kesiapsiagaan Sekolah ini menjadi ujung tombak diseminasi pendidikan kebencanaan, baik di lingkungan sekolah maupun di lingkungan tempat tinggal mereka,” tambah Teuku.
Rangkaian Program School and Community Resilience ini telah berjalan selama sepekan terakhir dan mendapat respons positif dari masyarakat serta pihak sekolah. Melalui kolaborasi PMI dan Palang Merah Jepang, program ini diharapkan mampu mewujudkan sekolah dan desa yang lebih siap, mandiri, dan tangguh dalam menghadapi bencana.
Redaktur: Ginda Ginanjar





