
JAMPANGTENGAH, sukabumizone.com ll Penantian panjang warga dua desa akhirnya terjawab. Jembatan gantung yang menghubungkan Kampung Cirampo, Desa Padabeunghar, Kecamatan Jampangtengah dengan Kampung Sukamaju, Desa Sukamaju, Kecamatan Cikembar, Kabupaten Sukabumi, resmi diresmikan pada Kamis (29/1/2026).
Jembatan yang selama bertahun-tahun berada dalam kondisi memprihatinkan itu kini berdiri kokoh, berkat kolaborasi sejumlah pihak, mulai dari Baznas RI, Relawan Sehati Gerak Bersama Kabupaten Sukabumi, hingga partisipasi aktif masyarakat dari kedua desa.
Kepala Desa Padabeunghar, Ence Rohendi, mengungkapkan rasa syukur dan apresiasinya atas terealisasinya pembangunan jembatan yang dinilai memiliki peran vital bagi warga.
“Atas nama Pemerintah Desa Padabeunghar, kami mengucapkan terima kasih kepada Relawan Sehati dan Baznas RI yang telah mengalokasikan anggaran pembangunan jembatan ini. Alhamdulillah, jembatan yang sebelumnya sudah sangat tidak layak kini bisa dimanfaatkan kembali oleh masyarakat,” ujarnya kepada sukabumizone.com Kamis (29/1/2026).
Ia menegaskan, jembatan gantung tersebut bukan sekadar penghubung fisik, melainkan urat nadi aktivitas warga karena menghubungkan dua desa dan dua kecamatan, yakni Jampangtengah dan Cikembar.
“Anak-anak sekolah kini tidak perlu lagi memutar jauh, begitu juga hasil pertanian warga yang bisa lebih mudah diangkut. Ini jelas sangat membantu mobilitas dan ekonomi masyarakat,” tegas Ence.
Namun demikian, Ence juga mengingatkan pentingnya kesadaran bersama dalam menjaga fasilitas yang telah dibangun.
“Jembatan ini milik bersama. Kalau ada karat atau kerusakan kecil, mari dirawat bersama. Jangan sampai dibiarkan rusak lagi,” katanya.

Sementara itu, Founder Sehati Gerak Bersama, Andri Kurniawan, menjelaskan bahwa pembangunan jembatan gantung Cirampo–Sukamaju merupakan bagian dari program kolaborasi dengan Baznas RI.
“Setelah kami melakukan presentasi kepada Baznas RI, Sehati dipercaya menjalankan dua program, salah satunya pembangunan jembatan gantung ini,” jelas Andri.
Ia memaparkan, proses pembangunan memakan waktu sekitar 45 hari, sedikit meleset dari target awal satu bulan akibat cuaca yang tidak menentu.
“Kondisi awal jembatan sangat memprihatinkan. Tiang sudah miring, lantai berlubang, seling berkarat, bahkan seling angin sudah tidak ada. Ini bukan karena bencana, tapi karena terlalu lama dibiarkan tanpa perawatan,” ungkapnya blak-blakan.
Menurut Andri, pembangunan dilakukan secara gotong royong antara relawan dan masyarakat dari dua desa, dengan memadukan dukungan tenaga, material, dan pendanaan.
“Kami sudah berupaya maksimal. Harapannya, jembatan ini benar-benar dijaga agar manfaatnya bisa dirasakan dalam jangka panjang,” pungkasnya.
Dengan diresmikannya jembatan gantung Cirampo–Sukamaju, akses antarwilayah kini terbuka lebar. Keberadaan jembatan ini diharapkan mampu mendorong peningkatan aktivitas pendidikan, pertanian, serta pergerakan ekonomi masyarakat di dua kecamatan tersebut.
Reporter : Restu Virmansyah
Redaktur : Ginda Ginanjar





