SUKABUMI KAB, sukabumizone.com || Minggu pagi hingga siang (8/2/2026), suasana di kawasan perbukitan Nyalindung terasa berbeda. Di ruang sederhana Pondok Pesantren Mabda Islam, puluhan santriwan dan santriwati tampak antusias. Mereka tak hanya mengaji, tetapi juga belajar bagaimana fakta dirangkai menjadi sebuah berita yang bertanggung jawab.
Kegiatan tersebut merupakan Safari Jurnalistik yang digelar Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Sukabumi dalam rangka memperingati Hari Pers Nasional (HPN) serta HUT ke-80 PWI tahun 2026. Hadir sebagai pemateri, Pelaksana Tugas Sekretaris PWI Kabupaten Sukabumi, Achmad Zazuli, yang memberikan pengenalan dasar dunia jurnalistik kepada para santri.
“Wartawan tidak boleh mengarang,” tegas Zazuli membuka materi. Kalimat singkat itu langsung menyita perhatian peserta dan menjadi penekanan awal tentang pentingnya kejujuran dalam jurnalisme.
Menurutnya, berita harus disusun berdasarkan fakta dan disampaikan secara objektif. Ia menegaskan bahwa tulisan jurnalistik wajib memenuhi unsur SPOK serta kaidah 5W + 1H. “Tanpa itu, tulisan bukan berita, hanya cerita,” ujarnya.
Menanamkan Etika Jurnalistik Sejak Dini
Safari jurnalistik ini menyasar kalangan pelajar dan santri sebagai upaya menanamkan literasi media sejak dini. Di tengah derasnya arus informasi digital, kemampuan memilah fakta dan membedakan informasi yang benar menjadi kebutuhan mendesak bagi generasi muda.
Zazuli menekankan bahwa jurnalisme bukan sekadar keterampilan menulis, melainkan tanggung jawab sosial. “Wartawan menyampaikan fakta, bukan opini pribadi. Objektivitas adalah napas jurnalisme,” katanya di hadapan para santri.
Ia juga mengingatkan bahwa santri hari ini hidup di dua ruang sekaligus, ruang pesantren dan ruang digital. Karena itu, pemahaman jurnalistik dinilai penting agar mereka tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga mampu menjadi penyampai kebenaran.
Belajar Langsung di Ruang Redaksi Mini
Tak hanya teori, peserta juga diajak langsung mempraktikkan penulisan berita. Setelah memahami konsep dasar 5W + 1H, para santri diberi tugas membuat berita sederhana dari peristiwa di sekitar mereka.
Suasana kelas pun berubah layaknya ruang redaksi mini. Diskusi kecil terdengar, beberapa santri sibuk menyusun kalimat, sementara lainnya saling mengoreksi tulisan. Metode ini membuat peserta memahami bahwa menulis berita bukan soal gaya bahasa, melainkan menyusun fakta secara runtut dan mudah dipahami.
Literasi Media untuk Generasi Pesantren
Pelatihan ini menjadi cerminan bahwa dunia pesantren terus beradaptasi dengan perkembangan zaman. Literasi media kini menjadi bekal penting agar santri mampu menyaring informasi sekaligus berkontribusi menyebarkan kebenaran di tengah masyarakat.
Melalui safari jurnalistik ini, PWI Kabupaten Sukabumi berharap lahir generasi muda yang melek media, kritis terhadap informasi, serta memahami nilai-nilai dasar jurnalistik.
Di tengah derasnya arus informasi digital, pesan yang disampaikan terasa sederhana namun kuat: menulis berita bukan soal kepandaian merangkai kata, melainkan tanggung jawab menjaga kebenaran.
Redaktur: Ginda Ginanjar





