
SUKABUMI, sukabumizone.com || Buramnya wajah infrastruktur di pelosok Kabupaten Sukabumi kembali memakan korban. Sebuah video yang menyayat hati viral di jagat maya, merekam perjuangan warga Dusun Cidahu, Desa Tanjungsari, Kecamatan Jampangtengah, saat menandu seorang ibu pasca-persalinan menyusuri jalan kabupaten yang lebih mirip kubangan lumpur.
Nahas, perjuangan bertaruh nyawa itu berakhir pilu. Sang bayi yang baru saja menghirup udara dunia tak terselamatkan, diduga akibat keterlambatan penanganan medis yang terhambat akses jalan yang remuk.
Dalam rekaman tersebut, nampak sejumlah pria harus ekstra hati-hati menjaga keseimbangan tandu bambu beralas kain sarung. Di atasnya, seorang ibu terkulai lemas menahan sakit pasca-persalinan. Ambulans desa yang sedianya menjemput, hanya bisa menunggu di titik yang terpaut jauh karena jalan mustahil ditembus kendaraan roda empat.
“Bagi kami, jalan rusak ini bukan sekadar soal becek atau debu. Ini soal nyawa,” keluh salah satu warga setempat dengan nada getir.
Bukan hanya urusan kesehatan, warga yang mayoritas petani juga menjerit. Jalur Jalan Kabupaten Leuwiliang Desa Parakanlima dan Kedusunan Cikadu Desa Tanjungsari hingga Desa Bojongtipar Kecamatan Jampangtengah, merupakan urat nadi ekonomi. Namun, karena kondisi jalan yang hancur, biaya angkut hasil bumi membengkak berkali-kali lipat, membuat kesejahteraan warga kian tercekik.

Tragedi ini akhirnya memicu reaksi cepat dari Pemerintah Kabupaten Sukabumi. Bupati Sukabumi, Asep Japar, memberikan kepastian mengenai nasib akses jalan tersebut di sela-sela peresmian Kantor Kecamatan Warungkiara, Senin (9/2/2026).
Kepada awak media, pria yang akrab disapa Asjap ini menegaskan bahwa perbaikan ruas jalan tersebut telah masuk dalam daftar prioritas utama pemerintah daerah.
“Kami sangat prihatin dengan kejadian tersebut. Saya tegaskan, pembangunan jalan Leuwiliang Desa Parakanlima – Tanjungsari ini akan dilaksanakan pada tahun ini. Ini sudah jadi prioritas,” tegas Bupati Asep Japar.
Meski angin segar telah ditiupkan oleh orang nomor satu di Kabupaten Sukabumi, warga Cidahu berharap pernyataan tersebut bukan sekadar “obat penenang” sementara. Tragedi yang menimpa ibu dan bayi tersebut diharapkan menjadi momentum terakhir bagi pemerintah untuk tidak lagi menunda pembangunan di wilayah pelosok.
Warga kini menanti alat berat segera mendarat di Jampangtengah, agar tak ada lagi nyawa yang harus “ditaruhkan” di atas tandu bambu demi mendapatkan hak dasar kesehatan.
Reporter: Restu Virmansyah
Redaktur: Ginanjar





