
SUKABUMI, sukabumizone.com || Teka-teki penyebab kematian NS (13), pelajar asal Desa Cipeundeuy, Kecamatan Surade, mulai memasuki babak baru yang lebih kompleks. Investigasi yang dilakukan Polres Sukabumi kini tidak hanya berfokus pada bekas kekerasan fisik yang kasat mata, tetapi juga mendalami temuan medis internal yang mengejutkan: indikasi penyakit paru-paru kronis
Berdasarkan hasil pemeriksaan medis awal yang dirilis kepolisian, tim forensik menemukan bukti-bukti adanya trauma fisik pada tubuh korban sebelum dinyatakan meninggal dunia di RSUD Jampangkulon, Kamis (19/2/2026). Temuan tersebut meliputi:
Luka Bakar Derajat 2A: Terdapat di beberapa bagian tubuh. Secara medis, luka bakar kategori ini telah mencapai lapisan dermis dan menyebabkan rasa nyeri yang hebat serta lepuhan.
Trauma Tumpul: Ditemukan luka lecet pada bagian bibir yang mengindikasikan adanya benturan atau kekerasan benda tumpul.
Kapolres Sukabumi, AKBP Samian, menegaskan bahwa kasus ini tidak bisa dilihat hanya dari satu sisi. Polisi kini menerapkan pendekatan scientific crime investigation untuk menyinkronkan antara temuan luka luar dengan kondisi organ dalam korban.
“Kami sedang mengkaji secara komprehensif keterkaitan antara luka fisik luar dengan kondisi medis internal korban. Investigasi ilmiah ini menjadi dasar utama kami untuk mengungkap fakta secara akurat,” ujar Samian, Sabtu (21/2/2026).
Munculnya temuan penyakit kronis pada paru-paru NS menjadi variabel penting dalam penyidikan. Tim ahli kini tengah bekerja untuk menentukan apakah penyebab kematian murni akibat kekerasan, komplikasi penyakit, atau kombinasi dari keduanya (aspek kausalitas).
Meninggalnya NS sempat memicu gelombang spekulasi di media sosial, yang dikhawatirkan dapat menggiring opini publik sebelum proses hukum selesai. Menanggapi hal itu, Kapolres meminta masyarakat untuk menahan diri dan tidak terjebak dalam disinformasi.
“Kami memahami keprihatinan masyarakat. Namun, berikan ruang kepada tim forensik dan penyidik untuk bekerja secara profesional. Fokus kami adalah memastikan keadilan bagi almarhum berdasarkan fakta medis dan hukum, bukan berdasarkan isu,” tambahnya.
Saat ini, publik menanti hasil otopsi lengkap dan keterangan ahli untuk menjawab secara pasti apa yang sebenarnya terjadi pada remaja asal Surade tersebut.( SU)





