
WARUNGKIARA, sukabumizone.com || Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Ponpes Modern Assalam, Kecamatan Warungkiara, Kabupaten Sukabumi, Reza, angkat bicara soal rincian angka Rp15 ribu per-porsi dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Kepada awak media, ia menjelaskan bahwa pagu Rp15.000 bukan semata ongkos lauk-pauk. “Perlu dipahami bersama, Rp15.000 itu bukan hanya untuk bahan makanan. Ada pembagian yang sudah diatur, sehingga program ini tetap berjalan optimal dan berkelanjutan,” ujar Reza, Rabu (25/2/2026).
Ia merinci, sekitar Rp8 hingga Rp10 ribu dialokasikan khusus untuk bahan makanan dan pemenuhan gizi penerima manfaat. Mulai dari balita, siswa SD hingga SMA, ibu hamil, sampai ibu menyusui.
Sisanya sambung Reza, Rp3 ribu digunakan untuk operasional. Seperti gaji karyawan, listrik, dan gas. “Adapun Rp2 ribu diperuntukkan bagi sewa tempat, peremajaan alat masak, serta fasilitas dapur,” jelasnya.
“Kalau hanya dihitung untuk makanannya saja tentu tidak cukup. Tapi karena ini program terpadu, maka operasional dapur, tenaga kerja, dan sarana pendukung juga harus diperhitungkan agar kualitas makanan tetap terjaga,” tegasnya.
Sementara itu, di tempat terpisah, Kepala Sekolah RA Al-Mukhtar, Desa Ubrug, Tati Supiati, menuturkan, dampak program itu terasa lebih riuh. Sebanyak 56 siswa menjadi penerima manfaat MBG. Setiap pukul 09.30, saat jam istirahat tiba, anak-anak duduk melingkar menikmati hidangan bersama—botram kecil yang sarat makna.
“Alhamdulillah anak-anak semua antusias dan makannya pun secara botram,” ujar Tati.
Bagi Tati, momen makan bersama bukan sekadar memenuhi kebutuhan nutrisi, melainkan juga membangun karakter. Anak-anak belajar berbagi, menunggu giliran, hingga merasakan kebersamaan sejak dini.
Menurutnya, manfaat MBG tidak hanya dirasakan murid. Para guru juga turut menikmati sajian dari SPPG Ponpes Modern Assalam Putri. “Sekarang bukan hanya muridnya saja yang dapat MBG, tapi guru pun dapat. Jadi bisa botram setiap hari bareng anak-anak,” tambahnya.
Soal menu favorit, Tati menyebut buah naga merah menjadi primadona kecil di antara siswa. “Anak-anak itu suka sekali dengan buah naga yang berwarna merah,” tuturnya seraya tersenyum.
Dari sisi pengawasan, sambung Tati, proses makan dipantau langsung para guru. “Mereka bukan hanya mengawasi, tetapi ikut duduk dan makan bersama siswa,” pungkansya.
Kebersamaan itu menjadi simbol bahwa program ini bukan sekadar distribusi makanan, melainkan ruang interaksi dan perhatian.
Di tengah sorotan terhadap angka Rp15 ribu, dapur MBG di Ponpes Modern Assalam membuktikan bahwa setiap rupiah dirancang untuk menjaga keseimbangan antara gizi, keberlanjutan, dan kualitas layanan.
Redaktur: Ruslan AG





