
BANTARGADUNG, sukabumizone.com || Lantunan ayat suci dari pengeras suara masjid terdengar sayu di langit Bantargadung,Namun, bagi warga Kampung Cijambe, Desa Bantargadung , Kecamatan Bantargadung Kabupaten Sukabumi,
Ramadhan tahun ini tak lagi sama. Tak ada aroma masakan dari dapur rumah, tak ada hangatnya kumpul keluarga di ruang tengah. Yang ada hanyalah deru angin yang menembus celah tenda pengungsian di Lapang Volly Pasapen, SDN 1 Bantargadung.
Sebanyak 108 Kepala Keluarga (KK) dengan total 355 jiwa terpaksa mengubur rencana Ramadhan yang nyaman. Bencana yang menerjang pemukiman mereka di RT 05 dan RT 02/RW 07 telah mengubah garis hidup dalam sekejap. Isak tangis dan raut kelelahan yang mendalam nampak menyelimuti wajah-wajah para penyintas saat malam mulai menjemput.
Misi Kemanusiaan di Garis Depan
Di tengah situasi darurat ini, kehadiran Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG) Kecamatan Bantargadung menjadi oase. Di bawah komando Dede Hermawan, S.I.P, selaku Koordinator Kecamatan (Korcam) sekaligus Kepala SPPG Bantargadung, Bojonggaling 2, misi memastikan “perut tidak kosong” menjadi harga mati.
“Kami tidak ingin warga yang sudah terpukul bencana, harus menanggung beban lapar lagi di bulan suci ini. Ramadhan adalah tentang kepedulian. Fokus kami adalah memastikan 355 jiwa di pengungsian tetap mendapatkan asupan nutrisi yang layak agar mereka kuat menjalankan ibadah puasa di tengah keterbatasan,” ujar Dede Hermawan kepada sukabumizone.com,saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (4/3).
Bergerak Berdasarkan Aturan dan Nurani
Langkah sigap ini bukan sekadar inisiatif spontan. Dede menegaskan bahwa aksi ini merupakan implementasi nyata dari Surat Edaran (SE) Nomor 07 Tahun 2025 tentang Pelayanan Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) dalam Situasi Keadaan Darurat Bencana Alam.

Sesuai arahan Koordinator Wilayah Kabupaten Sukabumi, SPPG berkomitmen penuh mendukung layanan makanan bagi korban terdampak. “Aturan ini menjadi payung hukum kami untuk bergerak cepat. Dalam kondisi darurat, birokrasi tidak boleh menghambat kemanusiaan. SPPG wajib hadir menyediakan menu Sahur dan Buka yang bergizi,” tambahnya.
Dapur Umum: Sinergi Dua Yayasan untuk 400 Paket
Untuk memastikan distribusi berjalan efisien, dua unit layanan SPPG terdekat dikerahkan sebagai dapur umum sekaligus pusat logistik:
SPPG Bantargadung Bojonggaling 2 (Yayasan Antasena Bangun Bersama)
SPPG Bantargadung Bantargadung 2 (Yayasan Alam Hayati Jumantara)
Setiap harinya, sebanyak 400 paket makanan diproduksi secara higienis. Paket ini tidak hanya ditujukan bagi warga yang kehilangan tempat tinggal, tetapi juga bagi para relawan, petugas keamanan, dan tim medis yang tak kenal lelah berjaga di lokasi bencana.
Harapan di Balik Tenda Darurat
Bagi para pengungsi, hadirnya makanan hangat di waktu sahur dan berbuka adalah bentuk kemewahan yang sangat mereka syukuri. Pasalnya, mayoritas peralatan memasak mereka telah tertimbun material bencana atau rusak berat.
“Alhamdulillah, kiriman makanan untuk buka dan sahur sangat membantu. Setidaknya kami bisa sedikit tenang memikirkan perut anak-anak di pengungsian. Mereka butuh tenaga untuk tetap kuat di sini,” ungkap salah satu warga dengan mata berkaca-kaca.
Ramadhan di Cijambe mungkin terasa kelabu, namun semangat gotong royong dari SPPG dan Forkopimcam Bantargadung setidaknya memberikan secercah cahaya bahwa mereka tidak berjuang sendirian.
Reporter : Restu Virmansyah
Redaktur: Ginanjar





