
SUKABUMI, sukabumizone.com || Suasana Lapangan Masjid Yangkokot, Desa Perbawati, mendadak hening pada Minggu sore (15/3/2026). Di atas panggung utama Gebyar Ramadhan 1447 Hijriah, seorang gadis mungil melangkah dengan percaya diri. Tingginya bahkan belum sebanding dengan stand mik yang berdiri di hadapannya, namun sorot matanya memancarkan keberanian yang luar biasa.
Ia adalah Zahira Fairuz, bocah berusia 5 tahun yang menjadi “bintang” dalam penutupan rangkaian kegiatan religi yang digelar Pemerintah Desa (Pemdes) Perbawati, Kecamatan Sukabumi.
Fasih Mengulas Makna Puasa
Tanpa naskah di tangan, ananda Zahira memulai pidatonya dengan salam yang lantang dan fasih. Bertajuk “Perintah Berpuasa”, untaian kalimat yang keluar dari lisan kecilnya tidak hanya sekadar hafalan. Intonasi yang tepat dan gestur tubuh yang natural membuat ratusan pasang mata penonton terpaku.
Banyak warga yang hadir mengaku takjub. Bukan hal yang biasa melihat anak usia prasekolah mampu menguasai panggung di hadapan khalayak luas dengan materi yang cukup berat.

“Luar biasa, saya sampai merinding. Di usia segitu, biasanya anak-anak masih malu-malu, tapi Zahira sangat lancar menjelaskan kenapa kita wajib berpuasa,” ujar salah satu pengunjung yang hadir di lokasi.
Lebih dari Sekadar Perlombaan
Penampilan Pildacil (Pemilihan Da’i Cilik) dari Zahira ini menjadi gong penutup yang manis bagi perhelatan Gebyar Ramadhan 1447 H. Program ini dirancang oleh Pemdes Perbawati bukan hanya sebagai ajang seremonial, melainkan wadah pencarian bakat dan penguatan karakter religius sejak dini bagi generasi muda di desa tersebut.
Kepala Desa Perbawati Ruhiyat Iskandar dan jajaran panitia menyampaikan bahwa kehadiran talenta seperti Zahira adalah bukti bahwa potensi sumber daya manusia di Desa Perbawati sangat besar, terutama dalam bidang keagamaan.
Pesan dari Mimbar Kecil
Melalui mimbar di Masjid Yangkokot, Zahira mengingatkan audiens—yang mayoritas jauh lebih tua darinya—tentang esensi menahan lapar, dahaga, dan hawa nafsu. Kehadirannya menjadi pengingat bahwa pendidikan agama yang kuat di lingkungan keluarga dan desa mampu melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga berani dalam mensyiarkan kebaikan.
Reporter: Dede Mardi
Redaktur: Ginanjar





