
SUKABUMI, sukabumizone.com || Guratan kebahagiaan menyeruak di tengah kekhidmatan pelataran Masjid Kampung Nyangkokot, Desa Perbawati, Minggu (15/3). Di bawah langit yang menaungi penutupan rangkaian Gebyar Ramadan 1447 Hijriah, sebuah momentum sakral tercipta bukan sekadar sebagai seremoni penutup, melainkan sebagai manifestasi konkret dari solidaritas sosial yang melampaui batas-batas birokrasi.
Manifestasi Kasih Seorang Pemimpin
Suasana kian syahdu saat Kepala Desa Perbawati, Ruhiyat Iskandar, melangkah di antara puluhan anak yatim dan lansia. Tak ada jarak yang memisahkan; Ruhiyat menanggalkan sekat formalitas kepemimpinan demi sebuah interaksi yang menyentuh relung jiwa. Dengan penuh ketulusan, ia merengkuh pundak kecil para anak yatim, membisikkan doa, dan mengecup kening mereka satu per satu.
Gestur paternal ini bukan sekadar pemandangan visual, melainkan simbol hadirnya sosok “ayah” bagi mereka yang merindukan dekapan kasih. Kehangatan tersebut seolah mengalirkan energi positif, mengubah tangis haru menjadi binar harapan di mata 90 anak yatim dan 15 lansia yang hadir.
Gema Filantropi dan Spritualitas

Dalam orasi yang sarat makna, Ruhiyat menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada para agniya—tangan-tangan dermawan yang telah mengulurkan bantuan. Ia menekankan bahwa kedermawanan adalah jembatan yang menghubungkan keberkahan dunia dan akhirat.
“Setiap keping kebaikan yang tersalurkan hari ini adalah investasi spiritual yang tak ternilai. Di bulan yang mustajab ini, kita bersimpuh memohon agar doa-doa tulus dari mereka yang terkasih ini menjadi pintu langit yang membawa keberkahan bagi desa kita,” tutur Ruhiyat dengan nada yang bergetar penuh haru.
Menjelang fajar Idulfitri, bantuan ini diharapkan tidak hanya menjadi penunjang kebutuhan logistik, tetapi juga sebagai stimulus moral agar kaum rentan dan anak-anak yatim dapat menyongsong hari kemenangan dengan martabat dan senyum yang merekah.
Reporter: Dede Mardi
Redaktur: Ginanjar





