
CICANTAYAN, sukabumizone.com || Gurat bahagia terpancar dari wajah-wajah bersahaja di Desa Sukadamai, Kecamatan Cicantayan. Di tengah khidmatnya suasana perayaan hari kemenangan, Pemerintah Desa (Pemdes) Sukadamai tidak sekadar merayakan ritual tahunan, melainkan meneguhkan kembali komitmen pengabdian melalui spirit kerukunan yang autentik.
Momentum Idulfitri tahun ini dimaknai sebagai titik balik untuk mempererat silaturahmi antara pemangku kebijakan dan seluruh lapisan masyarakat. Di bawah nakhoda Kepala Desa, Rudi Hartono, Pemdes Sukadamai melantunkan pesan persaudaraan yang melintasi batas-batas formalitas birokrasi.
Manifestasi Kesalehan Sosial
Bukan sekadar ucapan lisan, pesan Minal Aidin Wal Faizin yang digaungkan menjadi representasi dari keinginan luhur untuk saling memaafkan dan melebur segala khilaf. Rudi Hartono menegaskan bahwa harmoni adalah fondasi utama dalam membangun desa.
“Kemenangan sejati bukan hanya terletak pada kembalinya kita kepada fitrah, namun bagaimana kita mampu merajut kembali benang-benang persaudaraan yang sempat merenggang demi kemajuan bersama,” ungkap Rudi Hartono dengan nada takzim.
Sinergi dalam Tagar
Dalam narasinya, Pemdes Sukadamai mengusung tiga pilar filosofis yang menjadi panduan arah pembangunan:
#SukadamaiAKUR: Sebuah representasi dari visi kolektif masyarakat yang adaptif, komunikatif, dan rukun.
#SukabumiMubarokah: Harapan agar tanah Sukabumi senantiasa dilimpahi keberkahan dan kesejahteraan yang merata.
#JabarIstimewa: Bentuk kontribusi lokal dalam mewujudkan tatanan Jawa Barat yang unggul dan berkarakter.
Penutup yang Penuh Berkah
Menutup pesan hangatnya, segenap Keluarga Besar Pemerintah Desa Sukadamai memanjatkan doa terbaik bagi seluruh warga. Baarokallahulakum—semoga keberkahan Allah senantiasa menaungi setiap langkah, setiap rumah, dan setiap hati yang ada di Desa Sukadamai.
Perayaan kali ini menjadi bukti bahwa di tangan pemimpin yang mengedepankan nurani, administrasi desa bukan lagi sekadar urusan kertas, melainkan tentang menjaga detak jantung persaudaraan tetap hidup.
Reporter: Restu Virmansyah
Redaktur: Ginanjar





