
WARUNGKIARA, sukabumizone.com || Dinas Pendidikaan (Disdik) Kabupaten Sukabumi, menerunkan tim khusus untuk melakukan peninjauan ke lokasi. Hal itu dilakukan guna mengetahui secara detail penyebab kondisi SDN Kaum, di Desa Hegarmanah, Kecamatan Warungkiara, yang mengalami rusak parah.
Kepala Bidang (Kabid) SD pada Dinas Pendidikan Kabupaten Sukabumi, Deni, mengungkapkan bahwa kerusakan bangunan sekolah sudah masuk kategori serius.
“Jadi emang hasil pantauan kita ada tiga ruangan kelas nu tingkat karuksakanna berbeda, tapi emang harus diintervensi,” kata Deni, saat dihubungi melalui sambungan telepon, Jum’at (17/4/2026) sore.
Dari tiga ruang kelas tersebut, sambung Deni, dua diantaranya dinyatakan rusak berat. Bahkan satu sudah tidak digunakan karena dinilai membahayakan. Sementara satu ruang lainnya berada pada kategori rusak sedang.
“Ada dua ruangan rusak berat, tidak layak dipake dan satu rusak sedang. Jadi total tiga ruangan yang harus segera direhabilitasi,” tegasnya.
Situasi ini menempatkan siswa dalam kondisi yang tidak aman. Ancaman dari atap bocor, struktur lapuk, hingga potensi runtuhan menjadi bayang-bayang dalam aktivitas belajar sehari-hari.
Deni menjelaskan, Dinas Pendidikan pun memastikan langkah penanganan akan diprioritaskan. Dua ruang kelas rusak berat menjadi fokus utama, disusul satu ruang kelas rusak sedang.
“Prioritas utama dua kelas rusak berat, kemudian satu kelas rusak sedang dan saya juga mendorong pembangunan toilet untuk siswa dan guru,” jelas Deni.
Selain ruang kelas, fasilitas lain seperti ruang guru dan halaman sekolah masih dinilai layak, namun tetap membutuhkan pemeliharaan agar tidak ikut rusak. Namun, lanjut Deni, di balik kerusakan yang tampak jelas, tersimpan persoalan yang lebih kompleks: keterbatasan anggaran.
Dengan jumlah siswa hanya sekitar 57 orang, dana Bantuan Oprasional Sekolah atau BOS yang diterima sekolah sangat minim. Anggaran tersebut harus dibagi untuk berbagai kebutuhan, sehingga alokasi untuk pemeliharaan bangunan menjadi sangat terbatas.
“Jumlah siswa hanya 57. Biaya pemeliharaan ada, tapi jauh dari cukup. Tidak bisa maksimal untuk memperbaiki kerusakan berat,” ungkapnya.
Tak hanya itu, Deni juga menyoroti kurangnya kebersamaan dalam menjaga fasilitas sekolah. Ia menilai kepedulian terhadap perawatan masih perlu ditingkatkan.
“Yang terlihat, kurang kebersamaan dina ngajaga. Padahal lamun teu dirawat, nu masih layak oge bisa ruksak,” tambahnya.
Sebagai langkah antisipasi, Dinas Pendidikan mengimbau agar ruang kelas yang sudah rusak berat segera dikosongkan dan ditutup aksesnya.
“Ruangan yang tidak dipakai harus ditutup jangan sampai anak-anak masuk kesitu, bahaya. Khawatir ada benda atau material yang jatuh dari atap,” tegasnya.
Sambil menunggu proses pengajuan dan realisasi anggaran, pihak sekolah dan masyarakat diminta untuk bersama-sama menjaga kondisi yang masih ada.
“Minimal, sekarang kita bersama-sama jaga kondisi terakhir yang masih layak. Sambil kita dorong usulan, semoga bisa segera diintervensi,” pungkasnya.
Redaktur: Ruslan AG





