
SUKABUMI, sukabumi zone.com || Mentari pagi di hari Minggu (10/05/2026) terasa lebih hangat di Kampung Parungseah Lamri, Desa Parungseah. Ada pemandangan yang menggetarkan hati di sepanjang jalan lingkungan RW 07. Bukan deru mesin kendaraan yang terdengar, melainkan riuh rendah lantunan doa dan gelak tawa puluhan bahkan ratusan warga yang bersimpuh di atas hamparan tikar, menyatu dengan jalan yang baru saja tuntas bersalin rupa.
Pemerintah Kabupaten Sukabumi melalui Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Disperkim) memang baru saja merampungkan pembangunan jalan tersebut. Namun bagi warga, ini bukan sekadar urusan semen dan aspal; ini adalah jawaban atas doa-doa yang melangit di setiap sujud mereka.
Manifestasi Syukur dalam Tradisi “Ngaliwet”
Kegiatan syukuran dan makan bersama ini menjadi sebuah perayaan iman. Warga duduk berjajar tanpa sekat status sosial, menikmati hidangan swadaya yang melambangkan ukhuwah islamiyah (persaudaraan sesama muslim) dan semangat gotong royong yang kental. Jalan yang dulunya rusak, berlubang, dan menyulitkan langkah kaki menuju masjid maupun sekolah, kini telah mulus dan tertata rapi.
Kepala Desa Parungseah, Muhamad Munir, yang hadir di tengah kerumunan warga, tak mampu menyembunyikan rasa harunya. Baginya, momen ini adalah bentuk “Tahaddus bin Ni’mah”—mengungkapkan nikmat Allah sebagai bentuk syukur.
“Kegiatan ini bukan sekadar memanjakan lidah dengan hidangan, melainkan sebuah sujud syukur berjamaah kepada Allah SWT. Kami menyadari bahwa hakikatnya pembangunan ini adalah amanah. Semoga jalan beton yang kami duduki ini menjadi saksi amal kebaikan bagi semua pihak yang terlibat, mulai dari Bupati, Disperkim, hingga doa tulus warga,” tutur Munir dengan nada bergetar.
Harmoni dalam Kebersamaan
Kehadiran Bhabinkamtibmas, Babinsa, tokoh masyarakat, dan perangkat desa melengkapi mozaik kebersamaan pagi itu. Tidak ada jarak. Semua melebur dalam satu visi: menjaga apa yang telah dititipkan oleh negara.
Sementara itu, Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Kabupaten Sukabumi, Sandi Apriandi, menitipkan pesan yang sarat akan nilai tanggung jawab. Ia memandang dukungan masyarakat sebagai pilar utama keberhasilan pembangunan.
“Membangun itu sulit, namun merawat jauh lebih menantang. Kami berharap jalan ini dijaga layaknya menjaga teras rumah sendiri. Biarlah jalan ini awet, menjadi jalan kebaikan bagi ekonomi dan ibadah warga dalam waktu yang lama,” pesan Sandi.
Harapan yang Terus Mengalir
Bagi warga RW 07, jalan baru ini adalah urat nadi kehidupan yang kembali berdenyut kencang. Doa-doa kembali dipanjatkan agar pembangunan infrastruktur serupa terus mengalir secara berkesinambungan ke wilayah lain yang membutuhkan sentuhan kasih pemerintah.
Saat acara berakhir, warga bubar dengan senyum merekah. Mereka pulang membawa satu kesadaran baru: bahwa ketika manusia bersyukur, Tuhan akan menambah nikmat-Nya. Jalan lingkungan itu kini bukan lagi sekadar lintasan fisik, melainkan simbol kuatnya silaturahmi yang merekat erat di hati masyarakat Parungseah.
Reporter: Dede Mardi
Redaktur: Ginanjar





