
SUKABUMI, sukabumizone.com || Akses utama menuju kawasan wisata sekaligus pusat pemerintahan Kabupaten Sukabumi, Palabuhanratu, kian merana. Alih-alih menyuguhkan kenyamanan, jalur vital ini justru dikepung kerusakan parah: aspal hancur, genangan air yang menganga, hingga titik-titik amblas yang memicu kemacetan horor setiap harinya, Senin (25/1/2026).
Titik Terparah: Kampung Nyalindung Jadi Jebakan Macet
Berdasarkan pantauan langsung di lapangan, titik kerusakan paling krusial berada di Kampung Nyalindung, Desa Pasir Suren, Kecamatan Palabuhanratu. Di lokasi ini, infrastruktur jalan tidak lagi sekadar “rusak”, melainkan sudah masuk fase membahayakan.
Penyempitan Jalur: Kendaraan roda dua dan roda empat terpaksa merayap bergantian untuk menghindari lubang dalam.
Efek Domino: Antrean panjang kendaraan menjadi pemandangan harian akibat laju kendaraan yang melambat drastis.
Struktur Labil: Remukan aspal yang rapuh kian terkikis, membuat permukaan jalan menjadi bergelombang ekstrem dan licin saat diguyur hujan.
“Sekarang akibat jalan yang terus dibiarkan seperti ini, banyak pengendara yang kesulitan untuk melintas,” cetus salah seorang warga setempat yang sehari-hari menyaksikan langsung penderitaan para pengguna jalan.
Lima Tahun Diabaikan, Pergeseran Tanah Mengancam
Kerusakan di kawasan Nyalindung ini sebenarnya bukan cerita baru. Warga membeberkan bahwa wilayah tersebut telah mengalami fenomena pergeseran tanah selama kurang lebih lima tahun terakhir.
Ironisnya, meski statusnya merupakan jalur logistik dan wisata yang super sibuk, belum ada tanda-tanda perbaikan menyeluruh secara permanen. Pembiaran selama setengah dekade ini membuat struktur bawah jalan kian rapuh, hingga puncaknya kini mengancam total mobilitas masyarakat.
Urgensi Solusi Permanen, Bukan Sekadar Tambal Sulam
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pergerakan alat berat atau proyek rekonstruksi dari dinas terkait yang menawarkan solusi jangka panjang. Jalur yang seharusnya menjadi “wajah” penghubung menuju destinasi wisata internasional Palabuhanratu kini justru berubah status menjadi titik rawan kemacetan harian dan rawan kecelakaan.
Masyarakat kini menagih janji dan ketegasan pemerintah daerah. Diperlukan langkah konkret yang responsif—bukan sekadar tambal sulam musiman—demi mengembalikan urat nadi perekonomian dan menjamin keselamatan para pengguna jalan.
Reporter: Dede Mardi
Redaktur: Ginanjar





