
BANTARGADUNG, sukabumizone.com || Salah satu tantangan terbesar dari program masif nasional sering kali adalah masalah “jarak”—ketika sebuah kebijakan negara terasa kaku, mekanis, dan asing bagi warga lokal yang menjadi sasarannya. Namun, dinamika berbeda sedang diperlihatkan oleh Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG) Sukabumi Bantargadung Bojonggaling 2.
Tanpa Protokoler
Di balik kepulan asap dan kesibukan harian meracik ribuan porsi Makan Bergizi Gratis (MBG), lembaga ini menolak menjadi sekadar mesin pengolah makanan. Mereka memilih turun ke tanah, menenun ikatan Emosional, dan melebur bersama warga Kampung Sindangsari, Desa Bantargadung, Kabupaten Sukabumi, Jum’at (29/5/2026). Tanpa Protokoler Rumit atau pidato formal yang membosankan, SPPG Bantargadung menerjemahkan kehadiran negara lewat aksi komunal yang menyentuh ranah paling domestik warga: pembagian daging kurban dan aktivasi Jumat Berkah.
Strategi “Dapur Terbuka”: Meruntuhkan Tembok Birokrasi
Aksi penyembelihan dua ekor kambing hari itu sengaja dipusatkan langsung di area operasional dapur MBG, Kampung Sindangsari RT 002 RW 005. Secara spasial dan psikologis, ini adalah langkah taktis. Dapur yang biasanya menjadi area produksi tertutup, hari itu bertransformasi menjadi ruang publik tempat warga dan petugas berbaur tanpa sekat.
Kejelian melihat momentum juga terlihat usai penandatanganan ibadah mingguan. Begitu jemaah melangkah keluar dari masjid pasca-salat Jumat, Tim SPPG sudah bersiap di garis depan. Sebanyak 192 botol minuman segar dibagikan langsung kepada para jemaah yang baru saja menuntaskan ibadah. Sebuah gestur sederhana, namun memiliki dampak psikologis yang mendalam bagi kedekatan emosional warga.
“Alhamdulillah, hari ini kami melaksanakan pemotongan dua ekor hewan kurban dan langsung dibagikan kepada masyarakat sekitar. Tak hanya itu, selepas salat Jumat kami juga mengisi program Jumat Berkah dengan membagikan minuman segar sebanyak 192 botol kepada para jemaah,” ungkap Kepala SPPG Bantargadung Bojonggaling 2, Dede Hermawan, yang akrab disapa Dewan.
Bergerak Melampaui Tugas Fungsi: Melawan Stigma “Menara Gading”
Bagi Dewan, program MBG tidak boleh terjebak dalam stigma “proyek menara gading”—sebuah program yang sukses secara statistik di atas kertas, namun dingin dan asing dari denyut nadi kehidupan sosial di sekitarnya. Menurutnya, pemenuhan gizi fisik (asupan makanan) harus berjalan linier dengan pemenuhan “gizi sosial” (rasa saling percaya dan kebersamaan).
Aksi berbagi ini bukan sekadar agenda tambahan, melainkan sebuah pernyataan sikap (statement) bahwa SPPG adalah bagian integral dari komunitas Bantargadung.
“Kami ingin keberadaan SPPG tidak hanya dikenal sebagai dapur MBG atau tempat memasak saja. Lebih dari itu, tempat ini harus mampu memberikan dampak positif yang nyata dan mempererat hubungan emosional dengan masyarakat,” tegas Dewan. Ia menambahkan, pendekatan kultural dan berbagi seperti ini ditargetkan menjadi agenda berkelanjutan guna menjaga api gotong royong di tingkat tapak agar tidak padam.
Refleksi Akar Rumput: Piring yang Kenyang, Hubungan yang Hangat
Bagi masyarakat Kampung Sindangsari, implikasi dari aksi ini melampaui nilai ekonomis dari sebungkus daging atau sebotol minuman. Kehadiran SPPG di lingkungan mereka kini mengalami pergeseran paradigma. Lembaga tersebut tidak lagi dipandang sebagai unit pelaksana proyek pemerintah yang eksklusif, melainkan sebagai “tetangga baru” yang peka, adaptif, dan tahu cara menghormati kearifan lokal.
Di tengah gempuran zaman yang serba individualis, intervensi sosial spontan seperti ini terbukti ampuh memicu kembali kesadaran bertetangga dan gotong royong antarwarga.
Kesimpulan
Melalui kombinasi antara disiplin ketat standar gizi MBG dan keluwesan aksi humanis di lapangan, SPPG Sukabumi Bantargadung Bojonggaling 2 sedang mengirimkan sebuah pesan filosofis yang kuat: membangun manusia yang sehat, kuat, dan berkualitas tidak bisa diarsiteki hanya dari apa yang tersaji di atas piring makan, melainkan harus dimulai dari rasa kepedulian yang dirawat bersama-sama.
Redaktur: Ginanjar





