
WARUNGKIARA, sukabumizone.com || Sejumlah lahan pertanian milik warga Desa Kertamukti, Kecamatan Warungkiara, Kabupaten Sukabumi, terendam banjir yang diduga akibat luapan bendungan Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) setempat yang tak mampu menampung debit air.
Informasi yang dihimpun, sedikitnya 27 pemilik lahan di Kampung Bojongkerta RT 001 RW 001 terdampak langsung. Hingga kini, lahan pertanian tersebut belum memiliki kejelasan penyelesaian, meskipun kondisinya sudah tidak dapat dimanfaatkan.
Salah seorang warga mengungkapkan, genangan air tidak hanya terjadi saat musim hujan, tetapi juga pada musim kemarau. Ketinggian air bahkan mencapai 1 hingga 2 meter, sehingga sawah tidak bisa lagi ditanami.
“Sawah dan kebun terendam itu semenjak ada bangunan bendungan ini. Bukan karena musim hujan saja, di musim biasa juga tetap terdampak,” ujarnya.
Ia menjelaskan, posisi sawah yang berada di bawah tembok penahan air bendungan membuat luapan sulit dihindari. Kondisi ini dinilai berbeda dengan banjir tahunan yang biasa terjadi sebelumnya.
“Banjir mah beda lagi, ini mah gak hujan juga air naik dan sawah warga terendam. Kalau banjir mah beda ceritanya,” katanya.
Menurut warga, saat banjir tahunan datang, ketinggian air hampir sama dengan luapan bendungan. “Kalau banjir tahunan mah setinggi satu sampai dua meter. Saya juga baru pulang, udah lama gak lihat kebun dan sawah, pas lihat kondisinya udah banjir,” tambahnya.
Terkait ganti rugi, warga mengakui pihak perusahaan telah memberikan kompensasi terhadap tanaman atau kayu yang terdampak. Namun, tanah yang terus terendam hingga kini belum dibayar.
“Yang terdampak oleh air luapan bendungan mah sudah dibayar, seperti kayu. Tapi tanah belum dibayar sampai sekarang,” ungkapnya.
Kondisi tersebut membuat warga kebingungan. Lahan tidak bisa digarap, namun kepastian kepemilikan dan kompensasi belum juga diterima. “Mau dimanfaatin juga bingung, kondisinya terendam terus. Percuma, sudah tidak bisa digarap lagi,” keluhnya.
Warga berharap pihak perusahaan segera memberikan kepastian dengan membeli lahan terdampak secara layak dan adil agar mereka tidak terus dirugikan.
Sementara itu, saat dikonfirmasi melalui pesan singkat, Perwakilan Perusahaan PLTMH Kertamukti, Pri, menyatakan bahwa komunikasi dengan warga telah berjalan.
“Alhamdulillah, pihak perusahaan dengan masyarakat sudah ada komunikasi dan menuju solusi,” ujarnya, Jumat (30/1).
Menanggapi keluhan warga yang telah menunggu hampir dua bulan tanpa kepastian, pihak perusahaan menjelaskan bahwa penyelesaian dilakukan secara bertahap.
“Ada sawah dan kebun. Tahap satu sawah sudah ada penyelesaian. Sedangkan kebun tahap dua sudah ada kesepakatan untuk penyelesaian dengan warga, dan kami sudah komunikasi dengan pemilik kebun untuk solusi,” jelasnya.
Terkait kemungkinan pembebasan seluruh lahan terdampak, pihak perusahaan tidak menutup kemungkinan tersebut, namun mengakui adanya kendala keuangan.
“Ya, jika merugikan warga mau tidak mau harus dibebaskan. Tapi sekarang kondisi keuangan masih belum stabil,” pungkasnya.
Redaktur: Ruslan AG
Editor : Surya Adam




