
SIMPENAN, sukabumizone.com || Harapan akan peningkatan gizi bagi siswa di pelosok Kabupaten Sukabumi mendadak berubah menjadi kekhawatiran massal. Temuan paket Makan Bergizi Gratis (MBG) berisi tahu berjamur di wilayah Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi, memicu gelombang protes dan reaksi keras dari otoritas setempat. Kasus ini membuka tabir rapuhnya pengawasan dalam distribusi program unggulan pemerintah pusat tersebut.
Ancaman di Balik Kotak Makanan
Bagi Camat Simpenan, Supendi, insiden ini bukan sekadar masalah teknis distribusi atau kelalaian administratif. Ia melihatnya sebagai ancaman langsung terhadap keselamatan jiwa anak-anak sekolah.
“Jangan sekali-kali berurusan dengan nyawa. Ini program mulia dari Presiden, jangan sampai ada yang bermain-main,” tegas Supendi dengan nada bicara yang tidak bisa menyembunyikan kekecewaannya.
Supendi menekankan bahwa temuan tahu “bulukan” tersebut mencerminkan adanya standar operasional yang diabaikan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Ia menilai, mengabaikan kualitas makanan demi mengejar efisiensi biaya adalah tindakan yang tidak bisa ditoleransi.
Peringatan yang Terabaikan
Ironisnya, temuan ini muncul setelah rangkaian koordinasi intensif yang dilakukan oleh Forkopimcam Simpenan. Dalam berbagai rapat formal, pihak kecamatan mengeklaim telah berulang kali memberikan peringatan keras kepada yayasan pelaksana dan SPPG agar menjaga tiga pilar utama:
Tepat Sasaran: Distribusi menjangkau mereka yang membutuhkan.
Tepat Jumlah: Porsi sesuai dengan standar kebutuhan gizi.
Tepat Kualitas: Bahan makanan segar dan layak konsumsi.
“Kami sudah sampaikan berkali-kali, jangan jadikan program Presiden sebagai tameng untuk menutupi kelalaian atau mencari keuntungan sesaat,” tambah Supendi.
Ancaman Sanksi dan Laporan ke Bupati
Kasus ini kini memasuki babak baru. Supendi menyatakan tidak akan ragu untuk mengambil langkah hukum dan administratif yang lebih tinggi. Jika hasil investigasi membuktikan adanya unsur kesengajaan atau kelalaian sistematis dari pihak SPPG untuk memangkas anggaran melalui bahan baku yang tidak layak, laporan resmi akan segera dilayangkan ke meja Bupati Sukabumi.
Langkah tegas ini diambil untuk memberikan efek jera agar program MBG tidak dijadikan ajang “bancakan” oleh oknum tidak bertanggung jawab.
Analisis: Mengapa Ini Terjadi?
Secara mendalam, insiden di Simpenan ini menyoroti beberapa titik lemah dalam pelaksanaan MBG di tingkat lokal:
Lemahnya Rantai Pasok: Kurangnya pengawasan ketat pada pemilihan vendor bahan baku lokal oleh yayasan pelaksana.
Minimnya Kontrol Kualitas (QC): Tidak adanya prosedur pengecekan akhir sebelum makanan sampai ke tangan siswa.
Orientasi Profit: Adanya dugaan upaya menekan pengeluaran untuk meningkatkan selisih keuntungan bagi penyelenggara.
Menjaga Amanah Masa Depan
Program Makan Bergizi Gratis sejatinya adalah investasi jangka panjang untuk menciptakan generasi emas. Namun, insiden tahu berjamur di Simpenan menjadi pengingat pahit bahwa tanpa integritas pelaksana dan pengawasan publik yang ketat, program semulia apa pun bisa berujung pada petaka kesehatan.
Kini, bola panas ada di tangan pemerintah daerah dan pihak kepolisian untuk memastikan apakah ini murni kelalaian manusiawi atau ada praktik koruptif yang terselubung di balik kotak nasi siswa.
Redaktur ( Ginanjar)





